Bersetubuh Dengan Mertua Sendiri

Sebarkanlah ~  Hallo guyss saya mau ceritakan pengalaman aku yang pernah menyetubuhi mertua saya atau ibu kandung dari istriku, cerita ini berawal dari. Ehh hampir lupa saya perkenalkan diri dulu ya kawan-kawan, saya ini adalah seorang lelaku yang mempunyai hogi dalam bidang olahraga sehingga saya mempunyai tubuh setinggi 178 cm dan juga bobot tubuh 78 kg. Dari hobi olahragaku ini sehingga saya mempunyai badan atletis semua tubuh saya berbentuk sangat gagah. Maka sangat tidak heran apabila ada banyak wanita yang menggodaku dan mengajak saya untuk menemani mereka tidur. Namun saya sudah tidak bisa karena 4 tahun silam saya sudah menikahi seorang wanita pujaan hatiku, akan tetapi kami masih belum di karuniai seorang anak.

Di dalam rumah itu kami tinggal bertiga, saya dengan istriku serta Ibu dari istriku. Seringkali saya pulang terlebih dulu dari istriku, sebab saya pulang naik kereta sedang istriku pulang naik kendaraan umum. Jadi seringkali juga saya berdua di dalam rumah dengan mertuaku s/d istriku pulang. Mertuaku berusia seputar kira-kira 45 tahun, tapi ia dapat menjaga tubuhnya dengan baik, aktif dengan pekerjaan sosial serta teratur olahraga bersama dengan teman-temannya yang lainnya. Seringkali kulihat Ibu mertuaku gunakan pakaian tidur tipis serta tiada BH. Lihat bentuk tubuhnya yang masih tetap cukup dengan kulitnya yang putih, seringkali membuatku seperti kehabisan akal sehat.

Sempat satu hari ibu belum tuntas mandi, telephone berdering. Lantas ia juga keluar dari kamar mandi dengan cuma memakai sehelai handuk yang dililitkan ke tubuhnya. Saya yang tengah olahraga angkat beban di luar, dan berhayal ingin mengangkat tubuh ibu mertua saya. Sesampainya saya di dekat telephone, nyatanya kulihat Ibu mertuaku telah mengangkatnya terlebih dahulu. Waktu itu saya lihat panorama yang mengundang selera. Dari belakang kulihat bentuk pangkal pahanya sampai ke bawah kakinya yang demikian bersih tanpa sisa goresan sedikitpun. Saya tertegun serta menelan ludah, terangsang lihat kaki Ibu mertuaku. Dalam hati berfikir “Kok, telah tua seperti ini masih tetap mulus saja ya..?”

Saya terhentak dari lamunanku demikian Ibu mertuaku menyimpan gagang telephone. Lantas saya bergegas kembali pada luar, melanjutkan olahragaku yang terlambat. Beberapa waktu sesudahnya saya hentikan olahragaku, masuk ke kamar, mengambil handuk serta mandi. Waktu saya akan ke kamar mandi, kembali saya lihat panorama yang menggairahkan. Lewat sela pintu kamarnya yang tidak tertutup, kuintip ke, kulihat sisi belakang Ibu mertuaku yang bugil sebab handuknya telah dilepaskan dari tubuhnya. Langsung Kontol ku mulai bangun, serta gairahku mencapai puncak. Selekasnya kutenangkan pikiranku yang mulai kotor sebab panorama itu.

Tuntas mandi saya membuat kopi serta langsung duduk di muka TV tonton acara yang cukup untuk dilihat. Tidak lama Ibu mertuaku menyusul ikut-ikutan tonton sekalian mengobrol denganku.

“Bagaimana dengan kerjaanmu, apakah baik-baik saja?” bertanya Ibu mertuaku.

“Baik, Bu. Lho Ibu sendiri bagaimana?” tanyaku kembali. Kami mengobrol sampai istriku hadir serta turut masuk mengobrol dengan kami berdua.
Besok malamnya, seputar jam 11.30 malam saya keluar kamar untuk minum. Kulihat TV di ruangan keluarga masih tetap menyala. Waktu itu tampak Ibu mertuaku nyatanya telah tertidur di muka TV. Saat saya akan mematikan tv, tidak menyengaja saya lihat mengarah rok Ibu mertuaku. Rok Ibu mertuaku tersibak sampai celana dalamnya terlihat dikit. Kulihat kakinya masih tetap demikian mulus, iseng kuintip roknya serta terlihatlah gumpalan daging kemaluan yang tertutupi celana dalamnya. Ingin sekali rasa-rasanya kupegang serta kuremas gumpalan daging memek Ibu mertuaku itu, tapi cepat-cepat saya ke dapur mengambil minum lantas membawa ke kamar. Sebelum masuk kamar sekalian berjalan perlahan kulirik Ibu mertuaku satu kali lagi serta Kontol ku langsung turut bereaksi perlahan.

Saya masuk kamar serta coba mengusir pikiranku yang mulai kerasukan ini. Esoknya saya telat bangun, serta kulihat istriku tidak ada. Langsung saya bergegas ke kamar mandi. Tuntas mandi sekalian mengeringkan rambut yang basah, saya berjalan perlahan serta tiada menyengaja kulihat Ibu mertuaku bertukar pakaian di kamarnya tiada tutup pintu kamar. Saya kembali tertegun serta terangsang memandang keseluruhnya bentuk badan Ibu mertuaku. Hanya sesaat saya masuk kamar, bertukar baju kerja serta selekasnya pergi.

Ini hari saya pulang cepat, di kantorpun tidak lagi ada kerjaan yang saya mesti lakukan. Waktu pulang saya tidak lihat Ibu mertuaku, nampaknya ia ada di kamarnya sebab pintunya tertutup. Sampai di dalam rumah saya langsung bertukar baju dengan kaus berolahraga, serta mulai lakukan berolahraga teratur yang biasa saya kerjakan setiap pulang kerja. Tengah asyik-asyiknya saya melatih otot-otot dada serta lenganku, tidak diduga kudengar nada teriakan. Itu ialah nada teriakan Ibu mertuaku. Kusudahi latihanku, serta saya selekasnya bergegas ke arah nada teriakan yang datang dari kamar Ibu mertuaku. Langsung tiada fikir panjang kubuka pintu kamar. Kulihat Ibu mertuaku berdiri diatas kasur sekalian teriak

“Awas tikusnya keluar..!” tandas Ibu mertuaku.
“Tikus? Ada tikus di sini Bu?” tanyaku menyatakan.
“Iya…ada tikus, tolong carikan!” tuturnya cemas.

Saya juga mulai mencari tikus itu.

“Lho.. kok pintunya dibuka selalu? Kelak tikusnya sulit diamankan!” tandas Ibu mertuaku.

Sekalian kututup pintu kamar, kubilang “Mana.. manakah tikusnya..?”

“Coba kamu lihat dibawah kasur atau di pojok sana..” kata Ibu mertuaku sekalian menunjuk meja riasnya. Kuangkat seprei kasur dekat meja rias. Memang benar ada seekor tikus kecil disana yang tidak diduga mencuit serta melompat ke arahku. Saya kaget serta spontan lompat ke atas kasur.

Ibu mertuaku ketawa kecil lihat tingkahku serta menjelaskan “Kamu takut ikut ya?” Sekalian menggerutu perlahan kembali kucari tikus kecil itu, kadang-kadang mataku nakal melirik mengarah kaki Ibu mertuaku yang roknya terangkat itu.

Saat mencari tikus itu, tidak diduga Ibu mertuaku kembali teriak serta melompat ke arahku, nyatanya tikusnya ada diatas kasur. Ibu mertuaku mendekapku dari belakang, entahlah disengaja ataukah tidak, akan tetapi kurasakan payudara nya melekat di punggungku, berasa hangat serta kenyal-kenyal. Kuambil kertas serta kutangkap tikus yang telah mulai kecapaian itu selalu kubuang keluar.

“Udah dibuang keluar belumlah?” jelas Ibu mertuaku.
“Udah, Bu.” Jawabku di luar kamar.
“Kamu check kembali, mungkin masih tetap ada yang lain… soalnya Ibu dengar nada tikusnya ada dua” tegas Ibu mertuaku.
“Walah, tikus maen pakai ajak teman semua!” gumamku.

“Gak ada tikus kembali, Bu..!” kataku sesudah berulang-kali mencari. Tidak ada sahutan. Lantas tiada berkata apapun Ibu mertuaku bergerak dari kasur serta langsung memelukku. Saya kaget serta mulai panas dingin. Dalam hati saya berkata “Kenapa nih orang?”

Rambutku dibelai, diusap seperti usapan seseorang ibu pada anaknya. Dipeluknya saya erat-erat seperti takut kehilangan.

“Ibu mengapa?” tanyaku.
“Ah.. tidak! Ibu hanya ingin membelai kamu” jawabnya sekalian tersenyum genit.
“Udah ya.. Bu, belai-belainya..!” kataku.
“Kenapa, kamu tidak senang dibelai sama Ibu” rajuk Ibu mertuaku.
“Bukan tidak senang, Bu. Cumakan…” alasanku kembali.
“Cuma apa… mari.. hanya apakah..!?” potong Ibu mertuaku. Saya diam saja, dalam hati agar sajalah tidak ada ruginya kok dibelai sama ia. Siapa ikut lelaki yang tidak ingin diraba serta diusap-usap sama wanita seksi seperti ia?

Sekalian membelaiku, kulihat pancaran birahi beredar dari matanya. Saya terasa maklum, dengan kaos berolahraga tipis yang menempel di tubuhku, penampilan otot-otot kekar di baliknya tentu tampak dengan jelas. Belaiannya lantas beralih, dari rambut selalu turun ke leher sekalian diciumnya perlahan-lahan. Saya merinding meredam geli, sesaat tangan halusnya bergerilya telusuri tubuhku. Dituntunnya saya ke atas ranjang, awalilah pikiranku melanglang buana. Dalam hati saya berfikir “Jangan-jangan Ibu mertuaku kembali kesepian serta meminta disayang-sayang ama laki-laki”.

Saya berbaring diatas ranjang dengan tempat terlentang. Ibu mertuaku masih tetap selalu mengusap-usap dadaku waktu lalu turun ke sisi perutku. Di cium, dijilati, serta selalu dielusnya dada serta perutku. Saya menggelinjang geli serta berkata perlahan berkata “Bu, telah ya…” Ia diam saja, sesaat tangan kanannya mulai masuk ke celanaku. Saya merintih perlahan. Kurasakan tangan kanannya meraba-raba serta dikit meremas-remas Kontol ku di luar celana dalamku. Saya juga beringsut membantunya untuk turunkan celana pendekku. Tidak lama celanaku telah terlepas tersebut celana dalamku. Kontol ku juga telah berdiri kencang, selalu memanjang serta jadi membesar bersamaan dengan rabaan serta remasan tangan Ibu mertuaku di batangnya.

“Besar sekali burungmu, man, panjang pula…!” puji Ibu mertuaku sekalian melihat kepadaku serta tersenyum mesum. Mulut Ibu mertuaku juga mulai berlaga di Kontol ku. “Ah, ah.. hhmmh… teruss..” itu saja yang keluar dari mulutku. Ibu mertuaku selalu meneruskan permainan birahinya dengan mengulum Kontol ku. Bibirnya betul-betul lembut, pergerakan kulumannya demikian perlahan serta teratur. Saya terasa seperti disayang, di cintai dengan pergerakan mesra Ibu mertuaku. Sesudah dikulum seputar 15 menit lebih, saya mulai tidak tahan. “Ah, Bu.. saya tidak tahan kembali Bu..” erang nikmatku. “Hhmm.. mmh, heh..” nada Ibu mertuaku menjawabku. Pergerakan kepala Ibu mertuaku masih tetap perlahan serta teratur. Saya makin menggelinjang dibuatnya.

“Aggghhh…oohhh…akkuuu keeluuaarrr…Buu…”
“Crroootttt… cccrrrroootttt… ccrrrooottttt…”
“Banyak sekali kamu keluarnya, man..!” tandas Ibu mertuaku sekalian memandang mataku.
“Kenapa jadi berikut, Bu..?” tanyaku sekalian tersenyum.
“Ibu hanya ingin saja kok..” balas Ibu mertuaku genit. Diusap-usapnya dengan mesra batang Kontol ku, sekalian tersenyum ciri khas wanita nakal.

Saya belai rambutnya serta kuelus-elus pahanya sekalian berkata “Ibu ingin ikut?” godaku sekalian tersenyum. Ia menggangguk perlahan, kusudahi minumku serta lantas kucium bibir Ibu mertuaku. Ia balas ciumanku dengan mesra, saya lihat type Ibu mertuaku bukan type wanita yang haus akan sex, tetapi ia haus akan kasih sayang. Saya turut skema permainan Ibu mertuaku, pelan-pelan kucium ia dari mulai bibirnya selalu ke sisi leher serta belakang kupingnya, dari sana saya ciumi selalu mengarah dadanya. Kuraba serta kuusap semua tubuhnya dari pangkal paha sampai ke toket nya. Saya kembali ciumi ia dengan perlahan serta teratur.

Payudaranya kupegang, kuremas perlahan serta lembut, kucium serta kugigiti putingnya. Kudengar desahan nikmat serta nafasnya yang tidak teratur. Senang berlaga di dada saya selalu telusuri sisi perutnya, kujilati perutnya yang indah itu, dan mainkan ujung lidahku di atasnya dengan putaran lembut yang membuat ia dikit berkejang-kejang. Tangannya selalu meremas serta menjambak rambutku, sesaat lidahku melata perlahan mengarah memeknya. Hingga kemudian bibirku mencium daerah berbulu kepunyaannya, tercium aroma memeknya yang harum lantas kujilati bibir memeknya. “Oucchh.. selalu sayang, kamu lembut sekali.. tee.. teruss..” kudengar nada erotisnya perlahan.

Kujilati klitorisnya serta semua yang berada di daerah kemaluannya. Kusedoti cairan yang membanjir dari memeknya. Kulakukan ini terus-terusan, serta kudengar desahan erotiknya yang makin keras. Beberapa waktu lalu, saat ia mulai di ujung orgasmenya tidak diduga dengan tidak sabar ditariknya kepalaku serta ia kembali melumat bibirku dengan panas. Ia mengubah tubuhku serta mulai berjalan merayap ke atas tubuhku. Dipegangnya kembali Kontol ku yang telah kembali siap menyerang. Lantas diarahkannya Kontol ku yang telah siap tempur itu ke lobang memeknya. Sesudah seringkali dicoba, ”Blesshhh…” masuk telah semua batang Kontol kuku tertelan memek ibu mertuaku. Diangkat serta digoyang pantatnya. Ia memutar-mutar pinggulnya, berupaya untuk memperoleh kesenangan dari batangku seperti yang ia ingin.

“Ah.. uh, nikmat sekali ya..!” kata Ibu mertuaku. Dengan pergerakan semacam itu tidak terlepas kuremas payudaranya dengan mesra.
“Aahhh…uuhh…bessarr…banggett…punnyaa…muuhh…man ohh!” pergerakan naik turunnya semakin cepat.
“Ohh…nikmaattt…ahhh…uhhh…dahsyaaatt…” desah Ibu mertuaku selalu turun naik nikmati pompaan Kontol ku. Dicakarnya dengan gemas otot-otot kekar di dada serta di perutku….
“Ohhh…aahhh…miiliikk…Ibu…juggaa…ennakk” erangku penuh nikmat sekalian tidak terlepas kuremas-remas payudaranya.
“Sempiitt…ohhhh…terusshh…jepiitt buruuunggkuu…ohhh…Buuhhh…” erangku bersambung rasakan hisapan memeknya pada Kontol ku. Memek Ibu mertuaku memang masih tetap nikmat kurasakan.

“Aduh, Ibu tidak tahan kembali sayang…” kata Ibu mertuaku. Saya coba membantunya memperoleh kenikmatan yang mungkin tidak pernah ia alami awal mulanya.

“Ayyooo mannn… hisap serta susui toketku…” Kupenuhi permintaannya dengan suka hati. Kuhisap, kujilat serta kugigit gemas payudaranya yang bagus itu. Ibu mertuaku mengerang-erang rasakan enaknya perbuatanku itu.
“Aaaahhh… aahhh… aaahhh… pintaarrsss kamuuhhh Sayanngghhh…” Kurangkul tubuhnya lembut serta selalu.
“Ahh.. ah.. ahhss..” desah nikmat Ibu mertuaku. Keluarlah cairan kewanitaannya membasahi Kontol ku yang masih tetap tenggelam di liang memeknya.
“Ahhss…ohhhh…nikmaattnya burungmu…mann!” desahnya kembali sekalian tubuhnya yang mengkilat sebab keringatnya itu berkejat-kejat, terima gelombang kesenangan yang hadir menderanya.
“Enak ya.. Bu… Ingin kembali..?” Ia melihat serta tersenyum sekalian telunjuknya mencoel ujung hidungku.
“Kenapa? Kamu ikut ingin kembali?” canda Ibu mertuaku.

Tiada banyak narasi kumulai kembali beberapa gerakan panas, kuangkat Ibu mertuaku serta saya menidurkannya sekalian mencium bibirnya kembali. Untuk sekejap kami sama-sama berciuman dengan panas, sama-sama ganti lidah serta ludah. Lalu kembali kumasukkan Kontol ku ke memeknya. Cuma sesaat saya bermain dalam tempat itu, lantas kutuntun ia untuk bermain di tempat yang lainnya. Tangan kanannya menggenggam batang Kontol ku sekalian mengocoknya perlahan, sesaat ke-2 tanganku mainkan payudaranya. Lalu kuangkat kaki kanannya serta kupegangi kakinya. Tangan kanannya membimbing Kontol ku mengarah memeknya, perlahan serta tentu kumasukkan batang Kontol ku serta masuk dengan lembut… ”Bleeeppp…” Ibu mertuaku melenguh serta mendesah nikmat, kutarik serta kudorong perlahan Kontol ku, sekalian ikuti pergerakan pantat yang diputar-putar Ibu mertuaku. Kupegang erat-erat kaki kanannya supaya tidak jatuh, kudekap Ibu mertuaku dengan tangan kiriku, sekalian kumainkan payudara kirinya. Kadang-kadang kuciumi tengkuk lehernya.

“Ah.. ah.. mann.. herman, kammuu..!” desahan erotis Ibu mertuaku mulai keras terdengar.
“Ibu ingin keluar kembali.. man…” jeritnya. Dengar beberapa katanya, makin kutambah kecepatan sodokan batangku serta
“Acchh…aaahhh…ooochhh” keluarlah cairan ejakulasi dari memek Ibu mertuaku, Tubuhnya berkejat-kejat liar, bergetar lemas serta langsung jatuh ke kasur. Sesampainya di kasur kubalik tubuhnya serta kucium balik bibirnya.
“Ayo man, kamu lama sekali sich.. Ibu geli sekali nih..” kata Ibu mertuaku.
“Dikit kembali, Bu..!” sahutku. Ibu mertuaku membantuku keluar dengan meningkatkan pergerakan erotisnya.
“Crrootttt… cccrrrrooottttt… ccrrroootttttt….” Kuhamburkan semua spermaku dalam-dalam ke memeknya.
“Ahhcckk.. ahhk.. aduhh.. nikmatnya” kataku. Ibu mertuaku menanggapinya dengan memelukku dengan erat.
“Waduh banyak pula sepertinya kamu mengeluarkan pejuhmu untuk Ibu…” kata Ibu mertuaku sekalian tersenyum.

Kucabut Kontol ku yang telah kembali ciut ukurannya dari jepitan memeknya, lantas berbaring di sebelahnya. Saya terkulai lemas disamping ibu mertuaku. Lalu Ibu mertuaku mendekatiku serta merebahkan kepalanya di dadaku. Tangan halusnya membelai-belai perut sixpackku lantas berjalan turun untuk meremasi batang Kontol ku. Ia mainkan bekas cairan di ujung batangku. Saya dikit kegelian demikian tangan Ibu mertuaku mengusap-usap kepala Kontol ku yang telah kembali menciut.Sekejap kami sama-sama bercanda sekalian berciuman mesra. Sesudah senang, kucium bibir Ibu mertuaku lembut, lalu pamit keluar kamar untuk mandi.

Jalinan mesum kami selalu bersambung saat enam bulan ke depan, sampai pada akhirnya ia akan memutuskan geser dari rumahku. Ibu mertuaku geser ke rumah anaknya yang sulung, saya tahu tujuannya. Tapi istriku tidak menerimanya serta berperasangka negatif jika ia tidak dapat mengawasi ibunya yang satu itu.