Cerita Aipda Sumino, Polisi Tua yang Dimarahi Pemotor

VIRAL – Kesabaran polisi tua bernama Aipda Sumino menghadapi amarah seorang pemotor yang melanggar peraturan lalu lintas di ruas Jalan Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, menjadi perbincangan hangat masyarakat di media sosial.

Banyak orang yang ingin mengetahui secara pasti, apa sebenarnya yang memicu pemotor itu marah dan bagaimana Aipda Sumino begitu sabar menghadapinya.

Saat bertemu, Kamis, 31 Agustus 2017, di Markas Polsek Metro Tambora, Aipda Sumino akhirnya menceritakan semua kronologi peristiwa itu.

Menurut Aipda Sumino, peristiwa itu terjadi saat sedang melakukan pengamanan di dua gereja yang ada di dekat lokasi itu pada Minggu, 27 Agustus 2017.

“Jadi itu pada hari Minggu di sana ada dua gereja melaksanakan kebaktian. Saya diperintah Kapolsek suruh pengamanan di sana,” kata Sumino.

Sumino menuturkan, setiap akhir pekan dan hari libur, di sekitar ruas jalan itu memang sering terjadi kemacetan lalu lintas. Apalagi ruas jalan di lokasi hanya berlaku untuk satu arah saja.

“Pada kebaktian kendaraan banyak, agak macet. Itu kan satu jalur saya dibantu sekuriti gereja mengatur lalu lintas,” katanya.

Namun, saat mengatur lalu lintas, ia mendapati seorang pemotor mengemudikan sepeda motornya dengan cara melawan arus lalu lintas. Karena perbuatan pemotor itu melanggar peraturan, maka pemotor itu diminta untuk berputar arah lagi.

“Ada satu motor bapak-bapak lawan arah, terus suruh balik tidak mau. Saya bilang, ‘sudahlah pak, enggak enak ini dilihat banyak orang. Bapak sudah tua saya sudah tua enggak enak. Balik arah saja’. Dia mungkin kurang berkenan diberitahu sehingga emosi,” katanya,

Saat memarahi Sumino, pemotor itu juga mengancam akan melaporkan Sumino ke kenalannya yang disebutnya sebagai salah satu pimpinan di kepolisian. Namun, saat itu Sumino tak merasa gentar, karena memang apa yang dilakukannya sudah benar sesuai prosedur tugas seorang anggota kepolisian.

“Saya bilang telepon saja, saya tunggu,” ujarnya.

Tiba-tiba, saat pemotor itu sedang naik pitam, di lokasi muncul seorang anggota provost kepolisian dan berusaha menyelesaikan permasalahan pemotor tersebut.

Namun, tetap saja pemotor itu tidak mau mengalah dan malah menantang balik. Akhirnya anggota provost itu meminta pemotor untuk memperlihatkan surat-surat kendaraan dan identitas. Tapi ternyata pemotor itu menolak.

Karena penolakan itu, anggota provost tersebut terpancing emosinya dan adu mulut keduanya tidak terelakkan.

Di saat perdebatan terjadi, Sumino berusaha mendamaikan keduanya. Dia juga tampak menepuk bahu pemotor sebagai tanda untuk menyudahi perdebatan.

“Saya pegang pundaknya, akhirnya dia mengerti dan balik arah dan saya arahkan. Orang kita namanya atur lalu lintas, biasa kalau orang yang senang nadanya agak tinggi. Tapi saya lagi dinas, ya sudah saya suruh atur balik saja karena ditonton banyak orang,” tuturnya.

Sumino mengatakan, saat itu dia memang tidak berniat melakukan penindakan kepada pemotor tersebut, karena memang dia bukan seorang anggota kepolisian lalu lintas. Karena itulah dia hanya meminta pemotor itu untuk balik lagi.

“Ya, saya mah namanya mengatur lalu lintas biar lancar doang, bukan nanya surat-surat kelengkapan kendaraan. Saya bilang, ‘bapak balik saja, ramai begini enggak enak ditonton banyak orang malu. Tidak menilang suruh balik arah saja. Kalau tidak diatur banyak yang lawan arus,” ucapnya.

Video viral dan dituduh anak

Sementara itu, Sumino menuturkan, saat video rekaman dia dimarahi pemotor itu menjadi viral di media sosial, dia tidak mengetahuinya. Sebab dia tidak bisa mengakses media sosial karena telepon pintarnya sedang rusak.

Dia baru mengetahui soal video itu dari anaknya yang meneleponnya. Bahkan, menurut Sumino, anaknya sempat menuduh dirinya melakukan perbuatan yang tak baik, sehingga video itu menjadi heboh di masyarakat.

“Saya bilang saja orang saya sedang ngamanin lalu lintas gereja, disangka anak saya namanya polisi mikir negatif. Saya bilang saja, ‘kamu kan tahu saya jaga di pospol biasa ngatur lalu lintas. Ada orang melanggar, saya suruh balik arah, enggak mau’. Anak saya bilang ‘oh begitu pak’. Anak saya bilang ‘kok malah ngotot’,” ujarnya.

Sumino mengatakan, tak lama lagi dia akan mengakhiri masa baktinya pada negara karena usianya sudah masuk batas pensiun.

“Iya kurang lebih dua tahun lagi. Juni 2019. Yah kita lebih sadar lagi mau pensiun cari kebaikan lah. Begitu saja,” katanya.

Ia pun mengaku tidak trauma dengan kejadian tersebut dan tetap melaksanakan kewajibannya dalam mengatur lalu lintas dan melayani masyarakat.

“Tetap melakukan pelayanan biasa. Siang namanya mengatur lalin ya sudah mengatur lalin. Kan di situ pagi sore. Kalau siang lalin mati otomatis ya kita mengatur lalin. Kita kan mengatur lalin dan pelayanan masyarakat,” katanya.