Dipaksa ML Sama Cewek Satu Kuliahku Yang Bohay

Sebarkanlah ~  Berikut kisah sewaktu saya dipaksa untuk menyetubuhi teman kuliah saya sendiri, saya adalah anak laki-laki yang semata wayang di dalam keluarga saya dan saya juga terlahir dari keluarga yang memang cukup berada. Gw adalah anak terakhir, saya ada 2 kakak perempaun yang dimana umur kami sangat berbeda jauh sekali, berkisar jarak 5 atau 6 tahun. Keberuntungan anak paling terakhir yang pastinya sangat dimanja sekali apalagi saya adalah anak laki-laki semata mayang. Apapun yang saya inginkan pasti akan dikabuli oleh ke dua orang tua saya. Seluruh kasih sayang dari kedua orang tuaku tertuju padaku seorang saja.

Sewaktu kakak saya yang bernama maria melanjutkan hubungannya kejenjang pernikahan, saya sangat sedih dan menangis tampa ada henti dan mengurungkan diri didalam kamar sendiri. Aku sangat tidak rela apabila kakak saya menjadi milik orang lain dan aku sangat membenci suaminya begitu juga dengan semua orang yang terlihat bahagia melihat kakak maria di pinang oleh laki-laki yang mencintai dirinya. Semua orang yang ada di rumah sangat kewalahan untuk menghibur diriku untuk berhenti menangis, sampai-sampai kak maria menjanjikan akan memberikan berbagai macam hadiah untukku agar berhenti menangis. Mungkin di waktu itu saya memang masih sangat muda sekali tergolong di usia yang masih puber sehingga tingkah laku saya seperti anak balita. hahah ..

Tangisanku baru berhenti sesudah Bapak janji akan membelikanku motor. Walau sebenarnya saya sudah miliki mobil. Akan tetapi sudah lama saya ingin dibelikan motor. Akan tetapi Bapak belumlah dapat membelikannya. Jika mengingat peristiwa itu memang menggelikan sekali. Bahkan juga saya sampai ketawa sendiri. Habis lucu sich.., Soalnya waktu kak maria menikah, umurku telah 21 tahun.

Hampir lupa, Sekarang ini saya masih tetap kuliah. Serta kebetulan sekali saya kuliah di salah satunya perguruan tinggi swasta yg cukuplah bagus. Di universitas, sebetulnya ada seseorang wanita yg perhatiannya padaku demikian besar sekali. Akan tetapi saya benar-benar tidak tertarik kepadanya. Serta saya tetap menganggap menjadi kawan biasa saja. Walau sebenarnya banyak kawan-kawanku, akan tetapi semua teman laki-laki saya mengatakan bahwa cewek itu ada hati kepada saya.

Sebutlah saja namanya nara. Miliki wajah cantik, kulit yg putih seperti kapas, tubuh yg ramping serta padat berisi dan dada yg membusung dgn ukuran lumayan besar. Sebetulnya banyak lelaki yg menyimpan hati serta menginginkan cintanya. Akan tetapi nara justru menyimpan hati padaku. Sedang saya sendiri benar-benar tidak perduli, masih menganggap cuma kawan biasa saja. Akan tetapi nara nampaknya ikut tidak perduli. Perhatiannya padaku justru makin bertambah besar saja. Bahkan juga ia seringkali main ke rumahku, Bapak serta Ibu juga senang dengannya yang dan mereka sangat mengharap nara bisa menjadi kekasihku.

Hal yang sama dimana kakak kedua ku bernama putri sependapat dengan kedua orang tuaku, dia mengatakan bahwa saya sangat cocok sekali dengan nara akan tetapi aku tidak tetap tidak menghiraukan perkataan dari kakakku, apalagi untuk sampai jatuh cinta sungguh tidaklahh. Anehnya, sebagian besar kawan menjelaskan jika saya telah pacaran dgn nara, Walau sebenarnya saya merasa tidak pernah menjalin hubungan degannya. Hubunganku degan nara memang akrab sekali, walaupun status kami hanya sebagai teman dan bukan pacaran.

Seperti umumnya, sehari-hari Sabtu sore saya tetap ajak dodo, anjing pudel kesayanganku berjalan-jalan mengelilingi monas. Perlu untuk diketahui, saya mendapatkan anjing itu dari mas andi, suaminya kak maria. Sebab pemberiannya itu saya jadi suka pada mas andi. Walaupun sebenarnya semula saya tidak suka sekali, sebab memandang Mas andi sudah merampas kak maria dari sisiku. Saya memang gampang sekali disogok. Ditambah lagi oleh suatu yg saya gemari. Sebab sikap serta perilaku sehari-hariku masih tetap, serta saya belumlah dapat berlaku atau berfikir dengan dewasa.

Tiada disangka benar-benar saya berjumpa degan nara, akan tetapi ia tidak sendiri. nara bersama dengan mamanya yg umurnya mungkin seumuran degan ibuku. Ketika bertemu mereka aku tidak gugup, sebab sudah sama-sama kenal. Dan juga saya kerap memanggilnya tante amelia.

“Bagus sekali anjingnya..”, puji tante amelia.
“Iya, tan. dikasih sama mas andi”, sahutku bangga.
“Siapa namanya?” bertanya tante amelia kembali.
“Dodo”, sahutku masih degan suara bangga.

Tante amelia meminjamnya sesaat untuk jalan-jalan. Sebab terus-terusan memberikan pujian hal tersebut membuatku bangga, degan hati dipenuhi kebanggaan saya meminjamkannya. Sesaat tante amelia pergi membawa dodo, saya bersama nara duduk di bangku taman dekat patung Pangeran Diponegoro yg menunggang kuda degan gagah. Tidak banyak yang kami obrolkan, sebab tante amelia telah balik lagi serta memberi dodo padaku serta memberikan pujian kembali kepada diriku. Membuat dadaku jadi berbunga yang penuh dengan pujian seperti ingin meledak. Saya memang sangat senang jika dipuji.

Oh, ya.., nanti malam kamu harus hadir yaa..”, tutur tante amelia sebelum pergi.

“Ke rumah..?”, tanyaku pastikan.
“Iya.”
“Memangnya ada acara apa tan? ” tanyaku kembali.
“Nara ulang tahun. Akan tetapi tidak mau dirayakan. Tuturnya hanya ingin merayakannya sama kamu”, kata tante amelia.
“Kok nara tidak katakan sich..?”, saya mendengus sambil memandang nara yg jadi memerah mukanya. Namun nara cuma diam saja.
“Jangan lupa jam tujuh malam, ya..” kata tante amelia kembali untuk memperingatkan.
“Iya, tan”, sahutku.

Memang pas jam tujuh malam saya hadir ke rumah nara. Suasananya sepi-sepi saja, tidak tampak ada pesta. Akan tetapi saya diterima nara yg menggunakan pakaian seperti ingin pergi ke pesta saja. Tante amelia serta om rudi ikut kenakan pakaian seperti ingin pergi ke pesta. Akan tetapi tidak tampak ada seorangpun tamu di dalam rumah ini terkecuali saya sendiri. Serta memang benar, nyatanya nara berulang tahun malam hari ini. Serta cuma kami berempat saja yg merayakannya. Acara ulang tahunnya biasa saja. Tidak ada yg spesial. Tuntas makan malam, nara membawaku ke balkon tempat tinggalnya yg menghadap langsung ke halaman belakang.

Nara meraih tanganku serta memegangnya. Bahkan juga ia meremas-remas jari tanganku. Akan tetapi saya diam saja, justru memandang mukanya yg cantik serta demikian dekat sekali dgn wajahku. Demikian dekatnya hingga saya dapat rasakan kehangatan hembusan napasnya menimpa kulit wajahku. Tetapi masih saja saya tidak rasakan suatu.

Serta tidak diduga nara secara tiba-tiba mencium bibirku. Sekejap saya tersentak kaget, tidak menygka jika Lidya akan seberani itu. Saya menatapnya degan tajam. Akan tetapi nara justru membalasnya degan cahaya mata yang waktu itu begitu susah ku artikan.

“Kenapa kau menciumku..?” tanyaku polos.
“Aku mencintaimu”, sahut nara cukup ditekankan nada suaranya.
“Cinta..?” saya mendesis tidak memahami.

Entahlah mengapa nara hanya tersenyum. Ia menarik tanganku serta meletakkan diatas pahanya yg terungkap Cukuplah lebar. Saya berfikir begitu halusnya kulit paha wanita ini. Akan tetapi benar-benar saya tidak ingin menaggapi apa-apa. Serta sikapku masih dingin walau nara telah melingkarkan tangannya ke leherku. Makin dekat saja jarak muka kami. Bahkan juga badanku dgn tubuh nara sudah ada hampir tidak ada jarak kembali. Kembali nara mencium bibirku. kali ini tidak cuma mengecup, akan tetapi ia melumat serta mengulumnya degan penuh gairah. Sedang saya masih diam, tidak memberi reaksi apa-apa. Nara melepas pagutannya serta menatapku, Seolah tidak yakin jika saya benar-benar tidak dapat apa-apa.

“Kenapa diam saja..?” bertanya nara terasa sedih atau menyesal sebab sudah menyukai lelaki sepertiku.
“Memangnya saya mesti bagaimana?” saya justru balik menanyakan.
“Ohh..”, nara merintih panjang.

Akan tetapi nara tidak memperlihatkan kekecewaan atau penyesalan malah ia meningkatkan senyuman yang demikian indah serta manis sekali. Ia masih tetap melingkarkan tangannya ke leherku. Bahkan juga ia mendesak dadanya yangg membusung padat ke dadaku. Berasa padat serta kenyal dadanya. Seperti ada denyutan yang hangat. Akan tetapi saya tidak tahu serta benar-benar tidak rasakan apa-apa walau nara mendesak dadanya cukuplah kuat ke dadaku. Seolah nara berupaya untuk menghidupkan gairah kejantananku.

Ia seolah baru mengerti jika saya benar tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak pernah pacaran, bahkan masih begitu polos sekali. Nara kembali mencium serta melumat bibirku. Akan tetapi awal mulanya ia memberi tahu jika saya mesti membalasnya degan beberapa cara yang tidak patut untuk dijelaskan. Saya coba untuk menuruti kemauannya tanpa perasaan apa-apa.

“Ke kamarku, yuk..”, bisik nara mengajaku.
“Mau apakah ke kamar?”, tanyaku tidak memahami.
“Sudah janganlah jangan banyak bertanya. Yukkk..”, ajak nara setengah memaksa.
“Namun apakah kelak Ibu serta Papah kamu tidak marah, nar?”, tanyaku masih tidak memahami kemauannya.

Nara tidak menyahuti, justru berdiri serta menarik tanganku. Memang saya seperti anak kecil, menurut saja dibawa ke kamar wanita ini. Bahkan juga saya tidak memprotes saat nara menutup pintu kamar serta melepas bajuku. Tidak cuma itu saja, ia ikut melepas celanaku sampai yg tersisa tinggal sepotong celana dalam saja Sedikitpun saya tidak terasa malu, sebab biasa saya cuma menggunakan celana dalam saja jika di dalam rumah.

Nara memandangi badanku dari kepala sampai ke kaki. Ia tersenyum-senyum. Akan tetapi saya tidak tahu apakah makna semua itu. Lantas ia membimbing serta membawanya ke kasur lantas membaringankanku. Nara mulai menciumi muka serta leherku. Berasa demikian hangat sekali hembusan napasnya. Saya tersentak saat nara menanggalkan bajunya sendiri, sampai cuma baju dalam saja yang tersisa menempel di badannya. Kedua bola mataku sampai membeliak lebar. Untuk kali pertamanya, saya lihat figur tubuh prima seseorang wanita dalam kondisi tiada baju. Entahlah mengapa, tidak diduga saja dadaku berdebar menggemuruh Serta ada satu perasaan aneh yg tidak diduga saja menyelusup di hatiku.

Terburu-buru nara melepas penutup paling akhir yg menempel di badannya. hingga tidak ada selembar benangpun yg masih tetap menempel disana. Waktu itu pandangan mataku jadi nanar serta berkunang-kunang. Bahkan juga kepalaku berasa pening serta berdenyut memandang tubuh yang polos serta indah itu. nara ambil tanganku menempel di dadanya yg membusung padat serta kenyal.

Ia membisikkan suatu, akan tetapi saya tidak memahami degan permintaannya. Sabar sekali ia membimbing jari-jari tanganku untuk meremas serta mainkan sisi atas dadanya yg berwarna coklat kemerahan. Tidak diduga saja nara. menjambak rambutku, serta membenamkan Wajahku ke dadanya. Tentunya saya jadi sesak nafas sebab tidak dapat bernapas. Saya ingin mengangkatnya, akan tetapi nara justru mendesak dan juga membenamkan wajahku ke tengah dadanya. Waktu itu saya rasakan samping tangan nara menyebar ke sisi bawah perutku. Saya tersentak kaget setengah mati, saat tidak diduga rasakan jari-jari tangan nara menyelinap masuk ke balik celana dalamku yg tipis,

“Nara, apakah yg kau lakukan. .?” tanyaku tidak memahami, sambil mengusung wajahku dari dadanya. Nara tidak menjawab. Ia justru tersenyum. Sesaat perasaan hatiku makin tidak menentu. Serta saya rasakan jika sisi badanku yg penting jadi tegang, keras serta berdenyut terasanya akan meledak. Sedangkan nara justru memegang serta meremas-remas, membuatku mendesis serta mendesah degan semua perasaan berkecamuk jadi satu, namun saya cuma diam saja. Memang nara demikian aktif sekali, berupaya menghidupkan gairahku degan berbagai cara dan langkah. Berkali-kali ia membimbing tanganku ke dadanya yg sekarang sudah polos.

“Ayo dong, janganlah diam saja..”, bisik nara disela-sela tarikan napasnya yg mengincar.
“Aku.., Apa yang mesti kulakukan?” tanyaku tidak memahami.
“Cium serta peluk saya..”, bisik nara.

Saya berupaya untuk menuruti semua kemauannya. Akan tetapi kelihatannya nara belum juga senang. Serta ia makin aktif merangsang gairahku. Sesaat sisi bawah badanku makin menegang dan berdenyut. Selain itu nara telah menjepit pinggangku degan sepasang pahanya yg putih mulus. nara berada di diatas badanku, hingga saya dapat lihat semua lekuk badannya degan jelas sekali. Entahlah mengapa tidak diduga sekujur badanku menggelelar saat penisku tidak diduga menyentuh suatu yg lembab, hangat, serta cukup basah. Akan tetapi tidak diduga saja nara memekik, serta memandang sisi penisku.

“Kau..”, desis nara terputus suaranya.
“Ada apa, nar?” tanyaku polos.
“Ada apa, nar?”, tanyaku tak mengerti perubahan sikapnya yg begitu tiba-tiba.
“Tak.., tak ada apa-apa, sahut nara sembari merapihkan pakaiannya.

Saya bangun serta duduk disamping pembaringan. Memandangi nara yg telah rapi kenakan pakaian. Saya memang tidak memahami degan kekecewannya. Nara memang patut sedih, sebab alat kejantananku mendadak saja layu. Walau sebenarnya barusan nara sudah mau hampir membawaku mendaki ke puncak kesenangan.