Ilmuwan Ungkap Misteri Umur Jupiter dari Meteorit di Bumi

MISTERI – Ilmuwan dari Lawrence Livermore National Laboratory di California, Amerika Serikat, mencoba mengungkap umur Planet Jupiter. Menariknya, mereka mengungkap umur planet terbesar di jagat raya ini dengan cara yang unik.

Bagaimana caranya? Para ilmuwan memiliki sampel dari bumi, bulan, dan sejumlah asteroid yang membantu mereka menentukan rentang usianya. Namun, menurut Thomas Kruijer, penulis utama laporan itu, mereka tak punya sampel apa pun dari Jupiter.

“Kami menggunakan marka isotop meteorit yang ada di bumi untuk mencari tahu usia Jupiter,” kata Kruijer. Hasil kerja Kruijer dan tim terbit dalam jurnal Proceeding of the National Academy of Sciences edisi Juni.

Mungkin terdengar janggal para ilmuwan itu memanfaatkan meteorit untuk mengukur umur Jupiter. Namun identifikasi itu sesuai dengan kelompok marka isotop yang dapat menunjukkan perbedaan material penyusun meteorit sesuai dengan linimasa pembentukan tata surya.

Pada awal mula matahari terbentuk 4,6 miliar tahun silam, ia dikelilingi kumpulan gas, es, dan batuan berbentuk cakram yang berpilin. Inti batu Jupiter terbentuk sekitar satu juta tahun setelah matahari pertama kali berpijar. Mengikuti rute orbitnya, inti planet itu membuat celah besar di dalam cakram.

Ketika planet-planet berikutnya mulai terbentuk, asteroid juga bermunculan di dalam dan di luar cakram gas serta batu yang dipisahkan oleh rute orbit Jupiter. Karena terbentuk di lokasi yang berlainan, asteroid-asteroid itu memiliki komposisi isotop yang berbeda.

Sekitar 4,5 miliar tahun kemudian, asteroid yang terbentuk di cakram bagian luar terempas ke sabuk asteroid oleh dorongan energi planet-planet gas. Asteroid-asteroid itu saling bertabrakan, hancur, dan ada pecahannya yang mencapai bumi sebagai meteorit. Material inilah yang diteliti para ilmuwan untuk mengukur umur Jupiter.

Hasil analisis juga mengungkap, Jupiter juga diyakini menghabisi planet gas raksasa sekitar 600 juta tahun setelah matahari menyala. Para peneliti menduga kala itu ada planet gas raksasa ketiga selain Jupiter dan Neptunus yang terbentuk. Berdasarkan studi orbit sejumlah bulan Jupiter, mereka menemukan bukti bahwa planet gas itu berada terlalu dekat.

Ahli planet dari Universitas Brown, Brandon Johnson, mengatakan Jupiter, dalam usia mudanya, sudah mengontrol dinamika dan evolusi tata surya. “Dia adalah obyek terbesar, bahkan pada usia jutaan tahun sudah bisa mengubah tampilan tata surya kita,” kata dia yang tak tergabung dalam tim, seperti dikutip dari laman berita sains Space.