Kiyoshi Natanael Yohansyah, Bocah Penghafal 118 Unsur Kimia

INSPIRASI – Kiyoshi Natanael Yohansyah pantas disebut bocah genius. Di usianya yang masih 5 tahun 11 bulan, bocah asal Samarinda itu mampu menghafal, menulis, hingga menentukan letak 118 unsur kimia pada tabel periodik unsur kosong serta menyebutkan nomor atom secara acak.

Atas bakat dan kecerdasannya, Kiyoshi mendapatkan piagam penghargaan dari Lembaga Prestasi Rekor Indonesia-Dunia (Leprid). Penyerahan piagam dilakukan oleh Direktur dan Pendiri Leprid Paulus Pangka di Kantor Leprid, Semarang, Jawa Tengah.

Bakat memang terkadang bisa datang kepada siapa saja dan bakat yang sesungguhnya adalah bakat yang sudah muncul ketika masih di usia muda. Bakat alami tersebut memang sudah terbentuk dengan sendirinya dan tinggal diasah sedikit untuk bisa menjadi sebuah bakat luar biasa.

Begitulah yang melekat pada sosok Kiyoshi Natanael Yohansyah. Bocah yang lahir di Samarinda, 22 Agustus 2011 ini memiliki bakat dan kecerdasan luar biasa. Ayah Kiyoshi, Edy Yohansah menuturkan bahwa anaknya mengenal unsur-unsur kimia tersebut sekitar setahun yang lalu.

“Ketertarikan dia pada unsur-unsur kimia muncul saat usia lima tahun. Saya pun mengarahkan dia untuk belajar dan tak menolaknya,” ungkap Edy Yohansyah kepada SINDOnews di Semarang, .
Kiyoshi Natanael Yohansyah saat diuji kemampuannya dalam menghafal, menulis, hingga menentukan letak 118 unsur kimia pada tabel periodik unsur kosong serta menyebutkan nomor atom secara acak di Kantor Leprid. Foto/SINDOnews/Ahmad Antoni

Anak kedua dari tiga bersaudara itu seringkali memanfaatkan waktu kosong untuk belajar menghafal, menulis, hingga menentukan letak unsur kimia pada tabel periodik.

“Setidaknya satu jam dalam sehari dia belajar. Terkadang dia belajar utak-atik sendiri lewat aplikasi yang ada di android,” katanya.

“Beda dengan kakak dan adiknya yang suka main game, Kiyoshi malah lebih suka aplikasi edukasi,” ujar Edy.

Sementara, Kiyoshi sendiri mengaku senang dan bangga menerima penghargaan dari Leprid. “Ya saya senang dapat penghargaan ini,” ujarnya.

Dia mengatakan ingin terus belajar sampai bisa menggapai cita-citanya sebagai astronaut. “Saya hobi astronomi, nyanyi, dan menghafal unsur kimia. Nanti saya kalau sudah besar kepengin sekolah di luar negeri dan bercita-cita jadi astronot. Ya karena saya ingin ke bulan,” kata anak dari pasangan Edy Yohansyah dan Viensca Vlorynsia ini.

Direktur dan Pendiri Leprid Paulus Pangka menjelaskan, dalam sejarah rekor di Indonesia, dari orang dewasa maupun anak kecil belum ada rekor sejenis yang diciptakan Kiyoshi Natanael Yohansyah yang di usia kurang enam tahun sudah mampu menghafal, menyebut, dan menentukan letak unsur kimia.

“Kita telah menguji 118 unsur kimia, dan Kiyoshi berhasil menghafal hingga menyebut letaknya pada tabel periodik,” kata Paulus Pangka.

Dia berharap ke depan semoga anak-anak seperti ini bisa tumbuh berkembang. “Tentu peran orang tua juga ikut berpartisipasi meningkatkan kualitas pendidikan anak,” katanya.

Sebelum meraih penghargaan Leprid atas rekor penghafal 118 unsur kimia termuda di Indonesia, pada 11 bulan lalu tepatnya di usia 5 tahun, Kiyoshi telah mendapatkan penghargaan dari MURI sebagai pembaca peta buta termuda di Indonesia. Selain termuda juga sebagai pembaca peta buta tercepat karena Kiyoshi sendiri memang sangat cepat dalam menyebutkan berbagai letak geografis negara-negara di seluruh dunia menggunakan peta buta.
Kiyoshi Natanael Yohansyah saat diuji kemampuannya dalam menghafal, menulis, hingga menentukan letak 118 unsur kimia pada tabel periodik unsur kosong serta menyebutkan nomor atom secara acak di Kantor Leprid. Foto/SINDOnews/Ahmad Antoni

Hampir bisa dikatakan kemampuan dari Kiyoshi Natanael Yohansyah ini sangat-sangat sempurna tanpa ada kesalahan sedikit pun dan semuanya dilakukan dengan sangat cepat tanpa berpikir lama. Saat itu, Kiyoshi Natanael Yohansyah masih duduk di bangku taman kanak-kanak atau TK.

Percobaan terbaik yang pernah dilakukan oleh Kiyoshi ini adalah ketika dirinya mampu menyebutkan total 236 negara secara cepat dalam kurun waktu 42 detik. Dalam percobaan tersebut semua dilakukan dengan sempurna, tanpa ada kesalahahan sedikit pun.

Menurut ayahnya, untuk mempelajari peta buta baru terjadi pada usia 4 tahun. Semua itu dilakukan atas keinginan sendiri. “Tak ada paksaan dari kita sebagai orang tua. Dia sendiri memang benar-benar belajar dengan sangat keras menghafalkan peta buta di seluruh dunia setiap dirinya pulang dari sekolah.”