Menggali Misteri Bungker Stasiun Tanjung Priok yang Entah di Mana Ujungnya

MISTERI – DI ibu kota Jakarta banyak tempat bernilai sejarah tinggi. Mulai museum, kantor pemerintahan, hingga terminal bus atau stasiun kereta api. Mayoritas dari lokasi-lokasi tersebut adalah peninggalan para penjajah Bumi Pertiwi. Sebut saja pemerintahan kolonial Belanda hingga pasukan Jepang. Sampai sekarang pun sejumlah ikon bersejarah itu masih kukuh berdiri, tapi tentu saja ada yang kondisinya perlu perhatian lebih dari para pemangku kebijakan.

Kali ini Okezone akan coba membahas tentang salah satu fasilitas umum yang ternyata memiliki latar sejarah tinggi, yakni Stasiun Tanjung Priok di wilayah Jakarta Utara. Stasiun ini selesai dibangun pada 1883 oleh Burgerlijke Openbare Werken, namun baru di 1885 resmi dibuka dan beroperasi. Guna menyelesaikan pembangunan Stasiun Tanjung Priok, diperlukan sebanyak 1.700 tenaga kerja, dan 130 di antaranya berasal dari Eropa.

Stasiun Tanjung Priok lokasinya tepat di hadapan pelabuhan yang menjadi gerbang masuk ke Kota Batavia (Jakarta). Ini bisa disebut sebagai titik jantung dari segala aktivitas Hindia Belanda karena kapal-kapal mereka bersandar di sana dan berlanjut menurunkan logistiknya untuk menaiki kereta dari stasiun.

Di stasiun bergaya art deco Eropa seluas 46.930 meter persegi dan luas bangunan 3.768 meter persegi ini ternyata terdapat ruang bawah tanah tersembunyi atau biasa disebut bungker. Ruang ini tepatnya berada di hall sisi utara stasiun atau di samping ruang istirahat petugas keamanan. Ada anak tangga untuk menuju bawah bungker tersebut, namun kondisinya sempit, gelap, dan sedikit lembap.

Bungker itu berukuran 4×4 meter serta memiliki lima ruangan yang sampai sekarang tidak diketahui digunakan untuk apa. Bungker ini pun sempat tertutup lumpur dan genangan air hingga pada sekira 2009 sempat diadakan penggalian kembali, namun belum selesai. Penggalian diserahkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) kepada Badan Pusat Penelitian Purbakala (BP3) sebagai pihak yang berwenang untuk melakukan tindakan lebih lanjut agar tidak merusak struktur bangunan dan melindungi benda-benda yang ditemukan.

Konon bunker Stasiun Tanjung Priok terhubung dengan berbagai lokasi penting pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Ada yang menyebut terdapat jalur ke Batavia Staadhuis yang menjadi Balai Kota Batavia, dan kini berubah menjadi Museum Fatahillah. Bahkan, beredar isu terowongan itu bisa mencapai Pulau Onrust yang merupakan pelabuhan Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Vereenigde Oost indische Compagnie (VOC) sebelum pindah ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Kemudian selain bungker di hall sisi utara, terdapat juga dua ruangan sejenis di bagian timur dan barat. Tetapi hingga kini bungker di Stasiun Tanjung Priok itu masih menjadi misteri yang belum terungkap secara pasti. Ditambah, tidak diketahui menyambung ke mana lorong bawah tanah tersebut.