Misteri Suara Seram di Puncak Bukit Bedil yang Tak Terungkap

MISTERI – Setiap daerah memiliki sejarah dan cerita rakyat baik dengan bukti maupun hanya dengan cerita turun temurun.

Tak terkecuali di wilayah Kabupaten OKU Timur tepatnya di Desa Waysalak, Kecamatan Jayapura, Kabupaten OKU Timur.

Di desa tersebut berdiri dengan kokoh sebuah bukit yang memiliki sejarah dan cerita tersendiri bagi masyarakat sekitar.

Bukit Bedil. Nama belakang bukit tersebut tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat karena merupakan sebuah senjata yang digunakan baik untuk berperang maupun untuk mengusir hama tanaman dan binatang buas yang kerap mengganggu tanaman masyarakat.

Namun nama bedil yang disematkan pada bukit tersebut bukan hanya karena sekilas mirip atau berbentuk bedil.

Namun menurut cerita masyarakat sekitar di puncak bukit tersebut setiap beberapa minggu sekali selalu terdengar sebuah ledakan seperti ledakan bedil yang menggema dan terdengar dengan jelas.

Bukit Bedil di OKU Timur
Bukit Bedil di OKU Timur.

Meski tidak ada yang melihat dan menyaksikan secara langsung dari dekat asal suara tersebut.

Namun masyarakat meyakini bahwa suara tersebut berasal dari puncak Bukit Bedil yang terdengar setiap waktu tertentu yang tidak diketahui secara pasti apakah siang, pagi, sore atau malam suara mirip tembakan bedil tersebut terdengar.

Menurut tokoh masyarakat Desa Waysalak, Akrom Kohar, suara bedil yang kerap terdengar dari puncak bukit tersebut sudah ada sejak dia masih kecil.

Menurut cerita orangtuanya suara tersebut sudah ada sejak puluhan tahun sebelumnya dan tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi di puncak bukit tersebut.

Namun menurut mitos masyarakat sekitar, Bukit Bedil merupakan salah satu lokasi pertahanan masyarakat saat terjadi peperangan dengan penjajah ratusan tahun lalu.

Mereka meyakini bahwa suara tembakan bedil tersebut merupakan suara peperangan pertahanan masyarakat ketika melawan penjajah dahulu.

Dikatakan Akrom, Bukit Bedil bisa dikatakan lokasi tertinggi di wilayah OKU Timur dengan ketinggian sekitar 442 Meter Diatas Permukaan Laut (MDPL).

Bukit Bedil berlokasi beberapa kilometer dari Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur yang berlokasi di Kecamatan Jayapura.

Bukit tersebut kerap dijadikan ramaja sebagai lokasi untuk bertamasya atau sekedar camping menikmati pemandangan OKU Timur dari ketinggian.

“Kalau suara bedil memang sudah ada sejak kami kecil. Menurut orang tua dulu suara itu sudah ada. Suaranya kadang terdengar pagi, kadang juga siang atau malam. Suara dentumannya pesis seperti suara bedil,” katanya.

Selain memiliki cerita mengenai suara tembakan yang berasal dari puncak Bukit Bedil, di bukit tersebut juga terdapat sebuah tugu yang diduga merupakan tugu titik koordinat atau disebut sebagai Tugu Triangulasi (pemetaan oleh kolonial belanda).

Sebuah tugu segi empat yang memiliki tinggi sekitar 130 Centimeter (Cm) dan memiliki tulisan TRIANG NO.32 di bagian tengahnya tersebut sudah berada di puncak bukit tersebut sejak puluhan tahun lalu.

“Sejak kami kecil tugu tersebut sudah ada. Di atas bukit itu juga ada sisa helipad yang kerap digunakan helikopter untuk mendarat,” katanya.

Berdasarkan cerita turun temurun kata Akrom, tugu tersebut diyakini dibangun pada saat penjajahan kolonial belanda yang berfungsi untuk pemetaan wilayah.

Dia mengaku tidak ada cerita khusus mengenai keberadaan tugu tersebut baik kapan dibangun maupun fungsinya.

“Ini bukit tertinggi untuk wilayah OKU Timur. Kalau bukit yang ada di sekitar bukit ini lebih rendah, kalau dilihat dari atas bukit ini, semua wilayah terlihat, bahkan wilayah Lampung juga terlihat. Kemungkinan tugu ini dibangun untuk menentukan titik koordinat,” katanya.

Bukit Bedil di OKU Timur_1
Bukit Bedil di OKU Timur.

Heliped di Ketinggian 442 Mdpl
Selain keberadaan Tugu Triangulasi, Puncak Bukit Bedil juga memiliki sejarah tersendiri bagi masyarakat sekitar, sebelum tahun 1972, Bukit Bedil sering disinggahi sejumlah orang menggunakan helikopter.

Bahkan di puncak bukit tersebut ada bekas Heliped (landasan helokopter) yang hingga saat ini masih tersisa dan masih menjadi cerita hangat ditengah-tengah masyarakat Desa Waysalak dan sekitarnya.

“Di puncak bukit itu juga ada landasan helikopter. Terakhir helikopter mendarat disana tahun 1972. Waktu itu kami masih kecil-kecil. Kami berlari kesana ingin melihat helikopter yang mendarat disana,” terangnya.

Dengan jelas Akrom menceritakan bagaimana dirinya bersama beberapa teman sebayanya menyaksikan helikopter mendarat di puncak Bukti Bedil dan menurunkan beberapa orang besar dan putih yang diperkirakan penduduk sekitar merupakan warga negara Belanda atau warga negara Australia.

“Mereka bermukim di puncak bukit itu, mereka hanya turun sesekali untuk mengambil air di pemukiman warga. Di atas bukit itu tidak ada mata air yang dekat. Jadi mereka turun ke pemukiman warga kemudian mereka naik lagi ke atas bukit setelah mendapatkan apa yang mereka cari,” katanya.

Dikatakan Akrom, tidak ada warga maupun tetua desa yang mengetahui tujuan penumpang helikopter tersebut mendirikan tenda dan bermalam hingga lebih dari tiga bulan di puncak Bukit Bedil itu.

Selain karena penumpang helikopter tersebut menggunakan bahasa Inggris yang tidak bisa dimengerti.

“Waktu itu ada satu orang warga desa yang bisa berkomunikasi dengan mereka karena memang dia kuliah di Jogja. Namun saat ini dia sudah meninggal. Dia juga tidak bercerita banyak tentang tujuan orang-orang itu mendirikan tenda di atas bukit bedil itu,” katanya.

Sebelum tahun 1972 kata dia, masyarakat sekitar sudah tidak heran lagi menyaksikan ada helikopter turun di puncak Bukit Bedil dan bermalam disana.

Tetua desa kata dia, bercerita kalau sebelumnya hampir setiap tahun helikopter turun di puncak Bukit Bedil itu.

“Kalau orang-orang tua sudah tidak heran lagi ada helikopter dan turun di puncak Bukit Bedil. Mereka sudah terbiasa menyaksikannya. Mereka juga tidak ambil pusing tentang apa yang dilakukan mereka karena mereka memang tidak mengganggu warga desa. Mereka hanya turun untuk mengambil air saja kemudian naik lagi ke puncak bukit,” kata dia.

“Kalau kami terakhir menyaksikan ada helikopter turun di puncak bukit itu ketika masih berumur sekitar 12 tahunan yakni sekitar tahun 1972. Sejak itu sudah tidak ada lagi yang turun disana hingga saat ini,” katanya dibenarkan oleh beberapa rekannya Tarmizi, Arbia dan Lukman.