Profesor Ini Baru Sadar Ternyata Ia Mandul, Padahal Sudah Punya Anak 9, Istri Langsung Dicerai!

Profesor Ini Baru Sadar Ternyata Ia Mandul, Padahal Sudah Punya Anak 9, Istri Langsung Dicerai!

      Comments Off on Profesor Ini Baru Sadar Ternyata Ia Mandul, Padahal Sudah Punya Anak 9, Istri Langsung Dicerai!

Heboh – Seorang pria Maroko baru-baru ini menghebohkan jagat maya, yang menuntut istrinya, dengan tuduhan melakukan perzinahan.

Hal itu terjadi setelah ia melakukan check up rutin, pria tersebut divonis mandul, hampir seumur hidupnya, jadi tak mungkin ia bisa memiliki 9 anak.

Pria, yang merupakan seorang profesor di kota kecil di Maroko Sidi Slimane, dilaporkan dunianya langsung terbalik setelah hasil urologis itu menyatakan bahwa ia mandul.

Ia memiliki benjolan di testikel kanannya, di mana dokter mengatakan bahwa benjolana tersebut sudah ada di situ sejak ia bisa mengingatnya.

Dokter pun memutuskan untuk melakukan tes tambahan dan hasilnya menunjukkan bahwa benjolan tersebut tak berbahaya, tetapi ditunjukkan juga bahwa benjolan tersebut membuat pria tersebut mandul.

Masalahnya adalah ia telah menikah dengan istrinya selama 35 tahun dan telah memiliki anak 9 orang selama itu.

Koran Maroko Al-Massae melaporkan bahwa pria itu tidak langsung menghancurkan pernikahannya begitu saja setelah mendengar kabar kemandulannya tersebut, tapi ia masih ingin mengkonfirmasi dengang melakukan tes lanjutan.

Kota Sidi Slimane Maroko

Tapi tes lanjutan tersebut memberita tahu bahwa ia memang tidak mungkin memiliki anak selama ini.

Kaget atas hal tersebut, pria ini menghubungi pengacara dan membuat gugatan ke istrinya, dengan tuduhan melakukan perzinahan dan menginginkan perceraian dan tak mengakui 9 anak tersebut.

Pria ini juga membuat petisi ke Pengadilan Negeri untuk menunjuk tim medis spesialis untuk mengkonfirmasi ketidakpastian bahwa ia mandul selama lima dekade terakhir dan tak mungkin menjadi seorang ayah.

Tim legal yang ditunjuk pengadilan pun menginvestigasi hasil yang telah dilakukan pria tersebut, dan bisa dikonfirmasi dugaan tersebut dilandasi oleh bukti ilmiah.

Analisis seminan menunjukkan tak adanya sperma dan laporan urologis yang mengatakan bahwa benjolan di testikel kanannya telah membuatnya mandul.

Perzinahan adalah sebuah tindakan kriminal di Maroko, jadi saat istrinya itu terbukti bersalah, maka ia bisa mendekam di penjara.

Yang membuat kaget lagi adalah setelah tahu ia bukan ayah dari sembilan anak tersebut, pria ini langsung memutus tali hubungan keluarga dan meminta untuk tak dibebankan tanggung jawab sebagai orang tua.

Kota Sidi Slimane Maroko

Sang Anak Balas Dendam Saat Dewasa

Waktu menunjukkan jam makan siang di Lembaga Pemasyarakatan Missouri, Amerika Serikat.

Brryan Jackson terlihat gugup ketika dibimbing dari ruang tunggu penjara melewati pintu masuk yang berdenting memecah kesunyian ruang sidang.

Di ujung lain ruangan itu, ada seorang pria yang mengenakan seragam tahanan putih tengah menunggunya.

Meski mereka belum pernah bertemu lagi sejak Brryan Jackson masih bayi, pria bernama Bryan Stewart, di sudut ruangan itu tetap ayahnya.

Jackson berada di sini untuk membacakan sebuah pernyataan yang berisi harapan, dan memastikan bahwa ayahnya akan tetap mendekam di balik jeruji besi seumur hidup.

Sebagian orang tidak percaya bahwa Jackson bisa memiliki kesempatan untuk membaca pernyataan ini. Sebab, di tahun 1992 ia didiagnosis terjangkit “AIDS stadium akhir”.

Ketika itu, pihak rumah sakit tidak sanggup menanganinya, dan memulangkannya ke rumahnya dalam keadaan sekarat.

Sambil memegang selembar kertas yang diketik, Jackson duduk di samping ibunya, yang berjarak lima kursi dari ayahnya.

“Saya mencoba untuk menjaga agar pandangan mata saya tetap lurus. Saya tidak ingin menatap matanya,” kata Jackson.

Ia bisa melihat sang ayah dari sudut mata, tentu hanya sekilas.

“Saya mengenalinya dari foto yang ada di kantor polisi, tapi saya tidak memiliki hubungan dengan dia,” kata Jackson.

“Saya bahkan tidak mengenalinya sebagai ayah saya.”

Majelis pembebasan bersyarat menyerukan kepada Jackson untuk membacakan pernyataan dengan lantang. Jackson pun menghela napas, berhenti sejenak.

“Saat itu saya bertanya-tanya apakah saya melakukan hal yang benar, tapi ibu saya selalu mengajarkan saya agar menjadi berani,” ungkap dia.

“Saya mencoba untuk mengingatkan diri sendiri bahwa Tuhan menyertai saya. Apapun hasil sidang ini, Tuhan lebih besar dari saya, lebih besar dari ayah saya, lebih besar dari ruangan atau bahkan Departemen Kehakiman.”

Ia mengambil napas dalam-dalam, menatap majelis pembebasan bersyarat dengan mantap dan mulai menceritakan kisahnya.

Kota Sidi Slimane Maroko

Petugas medis

Kisah ini dimulai saat ibu dan ayahnya bertemu di sebuah fasilitas pelatihan militer di Missouri, di mana mereka berdua mengikuti pelatihan sebagai petugas medis.

Lalu, mereka pindah dan lima bulan kemudian, pada pertengahan tahun 1991, ibunya mengandung.

“Ayah sangat bahagia saat menyambut kelahiran saya, tapi semuanya berubah ketika ia pergi ke operasi militer Desert Storm di Arab Saudi. Sekembalinya dari sana, sikapnya berbeda sama sekali terhadap saya,” kata Jackson.

Stewart ayahnya mulai menyangkal bahwa Jackson adalah putranya.

Dia menuntut tes DNA sebagai bukti bahwa dirinya adalah ayah Jackson, dan ia pun menyerang sang ibu secara fisik dan verbal.

Ketika ibu Jackson akhirnya meninggalkan suaminya, pasangan ini bertengkar sengit soal biaya tunjangan anak, Stewart menolak untuk menafkahi.

Selama perselisihan itu, ayah Jackson melontarkan ancaman yang menyeramkan.

Jackson mengatakan, “Ia sering mengatakan hal-hal seperti, ‘anakmu tidak akan hidup melampaui usia lima tahun,’ dan ‘ketika saya meninggalkanmu, saya tidak akan meninggalkan ikatan apa pun.'”

Belakangan para penyelidik menemukan bahwa Stewart yang bekerja sebagai seorang penguji darah di laboratorium, diam-diam mulai mengambil sampel darah yang terinfeksi untuk disimpan di rumah.

“Ia sering bercanda dengan rekan-rekannya dengan mengatakan, ‘saya ingin menginfeksi seseorang dengan salah satu virus ini. Mereka bahkan tidak akan pernah tahu apa yang menimpa mereka’,” kata Jackson.

Kota Sidi Slimane Maroko

Menyuntikkan darah yang tercemar HIV

Ketika Jackson berusia 11 bulan, ayah dan ibunya sudah tidak berhubungan lagi. Namun, ketika Jackson dirawat di rumah sakit karena terserang asma, ibunya menelpon ayahnya.

“Ibu saya menelepon ayah untuk memberitahu, ia menganggap bahwa suaminya ingin tahu bahwa anaknya sakit.”

“Ketika ibunya menelepon, rekan-rekan ayahnya mengatakan, “Bryan Stewart tidak punya seorang anak.”

Di hari Jackson tak diakui sebagai anak, tak diduga Stewart mengunjungi Jackson ke rumah sakit.

“Ia bukanlah seorang ayah yang sangat aktif, jadi semua orang pikir itu aneh ketika dia muncul,” kata Jackson.

“Ia menyuruh ibu saya untuk minum di kantin rumah sakit sehingga ia bisa berdua dengan saya.”

Saat istrinya pergi, Stewart mengambil botol darah yang tercemar HIV dan menyuntikkan ke anaknya.

“Ia berharap saya mati jadi ia tidak harus membayar tunjangan anak,” kata Jackson.

Saat ibunya kembali dari kantin, Jackson menjerit dalam pelukan ayahnya. “Organ-organ penting saya diserang bukan hanya karena darah HIV yang ia suntikkan, namun juga darah itu tidak sesuai dengan saya.”

Sang ibu sempat putus asa

Menyadari adanya virus mematikan yang kini mengalir dalam tubuhnya, mereka menormalkan denyut nadinya, suhu dan pernapasan lalu menyuruhnya pulang, dengan harapan ia bisa menjalani kehidupan dan sehat.

Namun, keadaan Jackson semakin memburuk dari minggu ke minggu. Sang ibu merasa putus asa dengan berbagai diagnosa selama empat tahun.

Jackson mengatakan ibunya membawa dia ke “berbagai dokter” dan memohon untuk mencari tahu apa yang membuatnya hampir mati.

Berbagai tes dilakukan, namun hasilnya nihil.

Meskipun ia masih kecil, Jackson menyadari situasinya sangat menakutkan.

“Saya ingat terbangun di tengah malam dan berteriak, ‘Ibu, tolong jangan biarkan saya mati!” Katanya.

Suatu malam, dokter anak Jackson menelepon dan meminta mereka untuk tes HIV.

“Saya didiagnosis dengan AIDS stadium lanjut dan tiga infeksi akut.”

Para dokter berkesimpulan bahwa tidak ada harapan bagi kelangsungan hidupnya.

“Mereka menginginkan saya menjalani hidup normal sebisa mungkin,” katanya.

“Jadi mereka memberi saya kesempatan selama lima bulan untuk hidup dan menyuruh saya tinggal di rumah.”

Gangguan pendengaran

Para dokter terus merawat Jackson, meskipun, dengan dengan obat-obatan yang terbatas.

Ia mengatakan, masa kecilnya bisa berubah dalam “satu hari”.

“Suatu hari saya akan tampak baik-baik saja, satu jam berikutnya saya bisa bergegas kembali ke rumah sakit karena infeksi lain,” kata dia.

Ia lalu menderita gangguan pendengaran sebagai efek samping dari obat-obatan yang ia konsumsi.

Tidak seperti anak-anak lainnya yang tidak mampu bertahan hidup, kesehatan Jackson justru makin membaik dan inilah yang membuat para dokter tercengang.

Akhirnya, ia dinyatakan cukup sehat dan dapat bersekolah, dan mulai belajar di kelas paruh waktu.

Ke sekolah, dia membawa tas ransel yang dipenuhi obat-obatan yang disuntikkan melalui pembuluh darah.

Jackson adalah seorang anak kecil yang ramah, dan ia tidak menyadari stigma sosial seputar penyakitnya.

“Tragedi kehidupan di sekolah saya adalah ketika sekolah tidak menginginkan saya. Mereka takut.”

“Kembali ke tahun 90-an, orang-orang saat itu berpikir bahwa Anda bisa terjangkit AIDS dari kursi toilet.”

“Saya juga pernah membaca sebuah buku yang mengatakan bahwa Anda bisa terkena HIV melalui kontak mata,” katanya.

Namun, bukan anak-anak yang merasa takut pada Jackson, justru orangtua mereka.

Mereka tidak akan mengundangnya ke pesta ulang tahun. Namun, seiring pertumbuhan, teman-teman Jackson mulai meniru orangtua mereka yang berprasangka terhadapnya.

“Mereka memanggil saya dengan sebutan-sebutan seperti, ‘Anak AIDS, anak gay.”

“Saat itulah saya mulai merasa terisolasi dan sendirian. Saya merasa seperti tidak ada tempat di dunia bagi saya,” katanya.

Saat berusia 10 tahun ia mulai mengumpulkan potongan-potongan kisah kejahatan ayahnya.

Namun dibutuhkan beberapa tahun lagi mengetahui dampak dahsyat kejahatan ayahnya terhadap kehidupannya.

“Pada awalnya saya sangat marah. Saya menonton film-film yang mengggambarkan keceriaan antara seorang ayah dan anak.”

“Sulit rasanya membayangkan bagaimana ayah saya sendiri bisa melakukan itu kepada saya,” kata dia.

“Ia bukan hanya mencoba untuk membunuh saya, tapi ia juga telah mengubah hidup saya selamanya.”

“Ia bertanggung jawab atas tindakan bullying, ia bertanggung jawab atas tahun-tahun yang saya habiskan di rumah sakit.”

Ia adalah alasan mengapa saya sadar akan kesehatan saya dan apa yang saya lakukan,” ungkapnya.

Ketika berusia 13 tahun, ia mempelajari Alkitab sendirian di kamar tidurnya. Ia menemukan keyakinan dan hal inilah yang membuatnya memaafkan ayahnya.

“Memaafkan adalah hal yang tidak mudah,” katanya.

“Tapi saya tidak ingin menurunkan diri ke levelnya.”

Kota Sidi Slimane Maroko

Ubah identitas

Meskipun ia terlahir dengan nama Bryan Stewart Jnr, tahun lalu ia menambahkan huruf ‘R’ untuk nama pertamanya, mengambil nama keluarga ibunya, Jackson.

“Mengubah nama membantu saya melindungi identitas saya,” katanya.

“Ini juga menunjukkan bahwa ‘Saya tidak punya hubungan dengan Bryan Stewart. Saya adalah korban kejahatannya.”

“Selama sidang pembebasan bersyarat ia terus memanggilku, ‘nak’. Saya mencoba untuk mengangkat tangan dan memintanya untuk menyebut saya sebagai korbannya.”

“Saya pikir, mengapa ia mengakui saya sebagai anaknya? Apakah seorang ayah akan menyuntikkan HIV ke tubuh anaknya?

Jackson masih bisa tertawa, meski ia melewati masa-masa kelam yang diakibatkan oleh penyakit yang dideritanya, tertawa dengan para perawat ala film Forrest Gump di ranjang rumah sakit.

“Saya selalu membuat lelucon,” kata dia.

“Saya suka membuat lelucon tentang bagaimana rasanya positif terjangkit HIV, atau bagaimana rasanya menjadi kesulitan mendengar atau apa rasanya hidup tanpa seorang ayah.”

“Saya rasa jika saya tidak menjadi seorang motivator, saya akan menjadi seorang komedian.”

“Orang-orang bingung. Mereka pikir selera humor merupakan cara untuk menangani penyakit yang saya derita.”

“Tapi saya yakin jika Anda memiliki kemampuan untuk menertawakan tragedi, Anda akan mampu mengatasi hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup Anda, Anda punya kekuatan.”

Terbangun dari mimpi buruk

Pada bulan Juli, Jackson menerima surat dari Lembaga Pemasyarakatan Missouri yang memberitahukan bahwa berdasarkan keputusan sidang, pengajuan pembebasan bersyarat sang ayah ditolak untuk tempo lima tahun ke depan.

“Yang bisa saya lakukan di persidangan adalah membacakan pernyataan dan berdoa akan adanya keadilan. Namun, mendengar putusan tersebut, saya sangat termotivasi,” katanya.

“Ada saat-saat saya terbangun dari mimpi buruk, saya takut ia mungkin akan kembali untuk menuntaskan dendamnya,” katanya.

“Saya mungkin telah memaafkannya, tapi meski telah memaafkan, saya percaya Anda harus membayar konsekuensinya.”

Meskipun ayahnya membela diri di pengadilan bahwa ia menderita gangguan stres (PTSD), usai kembali dari Arab Saudi, Jackson merasa tidak yakin.

Ia mengatakan, ayahnya bertugas sebagai cadangan angkatan laut dan tidak pernah melihat pertempuran.

“Saya sehat seperti kuda! Lebih sehat dari kuda! Saya mungkin sedikit kelihatan gemuk, tapi saya masih menganggap diri saya seorang atlet yang baik,” kata dia.

“Kini jumlah sel T saya di atas rata-rata. Itu artinya saya tidak memiliki peluang untuk menularkan virus.”

“Saya makan 23 pil sehari, saya tidak tahu apa yang telah saya lakukan, tapi sekarang status HIV saya tidak ‘terdeteksi’.

“Saya masih memiliki AIDS,” katanya.

“Sekali didiagnosa mengidap HIV, akan selalu didiagnosa mengidap HIV,” sambungnya.

Meskipun ia sibuk dengan karirnya sebagai seorang motivator dan memiliki badan amal, Hope is Vital, yang mempromosikan pemahaman tentang HIV, ia seringkali memimpikan untuk menjadi seorang ayah.

Memiliki seorang ayah yang buruk, ia merindukan menjadi seorang bapak yang baik.

“Saya ingin menjadi seorang ayah,” katanya.

“Menjadi seorang ayah adalah sesuatu yang membuat saya berarti.”

“Saya ingin membesarkan anak-anak saya. Saya ingin memberi mereka sebuah pandangan bahwa dunia adalah tempat yang damai.”

“Saya akan selalu berada di sana untuk melindungi mereka. Baik dalam keadaan suka maupun duka,” ungkap Brryan.