Rupiah Kembali Melemah Menuju 13.650 per Dolar AS

Rupiah Kembali Melemah Menuju 13.650 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Kamis ini. Dolar AS terus menguat di kawasan Asia karena pelaku pasar terus mencari aset safe haven.

Mengutip Bloomberg, Kamis (8/2/2018), rupiah dibuka di angka 13.595 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.555 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.584 per dolar AS hingga 13.641 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 0,53 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.602 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 13.533 per dolar AS.

Dolar AS memang kembali menguat di kawasan Asia setelah mengelami tekanan yang cukup dalam. Penguatan dolar AS ini karena penguatan euro dan kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS.

Namun memang penguatan dolar AS tidak terlalu tinggi karena investor masih juga menyimpan mata uang tersebut melihat volatilitas pasar saham yang cukup tinggi.

“Dolar AS masih bertahan karena ketidakpastian di pasar ekuitas yang kemungkinan akan terus berlanjut ke depannya,” jelas analis Mizuho Securities, Tokyo, Masafumi Yamamoto dikutip dari Reuters.

“Imbal hasil surat utang AS yang naik menjadi tenaga bagi dolar AS untuk terus menguat,” tambah analis Sumitomo Mitsui Trust Bank,Ayako Sera.

Gerak Saham Hari Ini

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan penguatan. Gerak seluruh sektor saham cenderung bervariatif.

Pada pra pembukaan perdagangan pagi ini (8/2/2018), IHSG bergerak di level 6.543,62. Menguat 8,75 poin atau 0,13 persen. Sementara indeks LQ45 naik ke level 1.103,58.

Laju IHSG pun berlanjut hingga pembukaan pukul 09.00 WIB. IHSG naik lebih tinggi 10,95 poin dan 0,17 persen ke posisi 6.545,82. Indeks LQ45 tercatat melemah 0,16 ke level 1.099,28.

“IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,3 persen dengan inflasi 3,5 persen menjadi sentimen positif pendorong IHSG,” ujar Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi dalam ulasannya.

Penguatan IHSG diiringi dengan gerak sektor saham yang bervariatif. Sektor saham konstruksi memimpin dengan penguatan 0,08 persen. Penguatan juga diikuti sektor saham keuangan dan konstruksi dengan masing-masing naik 0,21 persen dan 0,15 persen.

Sebanyak 107 saham mengalami penguatan, 101 saham stagnan, dan 71 saham turun. Total frekuensi perdagangan saham tercatat 26.408 kali. Volume perdagangan sebanyak 1 miliar dengan nilai transaksi Rp 425,3 miliar.

Investor asing mencatat penjualan sebesar Rp 41,33 miliar. Sementara kurs rupiah berada di posisi US$ 13.594 per dolar Amerika Serikat (AS).