Transgender & Operasi Kelamin: Wanita Itu Bernama Dorce

Transgender & Operasi Kelamin: Wanita Itu Bernama Dorce

      Comments Off on Transgender & Operasi Kelamin: Wanita Itu Bernama Dorce

Gossip – Panasnya isu Lucinta Luna mengingatkan kami akan sosok yang juga sempat mengguncang ‘ketenangan’ dunia entertainment dengan perubahan gender yang dilakukannya, Dorce Gamalama. Tercetus sebuah ide dari kami untuk menghubungi Bunda Dorce, begitu Ia disapa, untuk berbincang-bincang seputar isu transgender yang tengah panas saat ini. Kamis (5/4), Bunda Dorce akhirnya bersedia meluangkan waktunya untuk ngobrol dengan kami di sela-sela aktivitas perawatan rutinnya di sebuah salon di Cikini.

Kami bisa dibilang beruntung, mengingat belum lama beliau ini sempat menolak tawaran untuk tampil di sebuah program televisi. Singkat cerita, tim reporter, video dan fotografer kami bertolak menuju ke lokasi ketemuan 90 menit sebelum waktu yang disepakati dari Tebet. Jaraknya memang tak terlalu jauh, tapi kami memang tak ingin terlambat.

Setibanya kita di sana, Dorce langsung menyambut kami. Sosoknya terlihat santun dengan balutan hijab yang menutupi kepalanya, sesekali Ia bertingkah kocak dan blak-blakan, seperti yang sering kita lihat di layar kaca. Salon yang dipilih Bunda Dorce tidak terlalu mewah, bahkan terkesan sederhana. Namun dilihat dari bentuknya, salon ini memang sudah lama beroperasi dan memiliki pelanggan setia termasuk Bunda Dorce yang sudah puluhan tahun menikmati jasanya.

Senyuman Dorce menyambut kita dengan ramah / Credit: KapanLagi - Budy Santoso

Setelah selesai menyiapkan perangkat video dan foto, perbincangan intim kita pun dimulai tanpa basa-basi lagi. Namun sebelum ada pertanyaan yang keluar dari mulut, Bunda Dorce sudah menebak maksud kedatangan kami.

“Gua tau elu mau nanya soal waria satu itu yang nggak ngakuin (Lucinta Luna), gue no comment soal dia. Satu gue juga nggak kenal sama dia, tapi biarkan ini menjadi proses hidupnya, jangan banyak menghakimi, apalagi saya melihat ada temennya yang membuat dia menjadi bumerang, dendam. Sebenernya nggak perlu, iya kalau bener, apalagi katanya ini udah disetting. Aduh kasihan kalau disetting, gue jadi artis nggak pernah disetting. Jadi dalam hal ini saya nggak mau menanggapi, saya hanya berdoa selesaikan di antara kalian nggak usah berantem-berantem, baik-baik aja. Kalau diterima seperti itu terima, nggak juga nggak apa-apa. Masyarakat akan melihat kalau itu sebuah kebaikan, kalau keburukan masyarakat akan menolak,” buka Dorce sambil sesekali membenahi hijabnya.

Lebih jauh, Dorce juga sedikit membandingkan fenomena artis zaman sekarang dan dulu. “Kalau sekarang harus jadi gila, kalau dulu digila-gilain. Sekarang kalau nggak gila nggak lucu karena banyak orang yang apa aja bisa, apalagi dengan media yang begitu dahsyat. Sekarang apapun begitu keluar, meledak, jadi fenomenal, bahkan orang berusaha mencari sesuatu hal yang memang dia kerjanya apa, tiba-tiba mau jadi apa, nggak bisa. Kita harus step by step, dari satu tangga ke tangga berikutnya itu perlu perjuangan,” sambungnya.

Pernyataan Bunda Dorce mengenai perjuangan yang harus step by step itu mengingatkan kami akan masa lalu beliau yang tertuang lewat buku bertajuk ‘Aku Perempuan: Jalan Berliku Seorang Dorce Gamalama’. Lewat buku yang diterbitkan pada Agustus 2005 itu, Dorce menceritakan detail dari segala kisah masa lalunya yang pahit dan penuh perjuangan. Begini kesimpulan ceritanya..

21 Juli 1963 di Solok, Sumatera Barat, Bunda Dorce lahir ke dunia. Kala itu, Beliau lahir sebagai bayi laki-laki yang diberi nama Dedi Yuliardi. 2 dekade setelah lahir ke dunia, Dedi mengambil keputusan untuk menjalani transisi gender jadi seorang wanita. Tak cuma gender, nama dan juga identitasnya pun lalu berubah sepenuhnya. Tentunya bukan perkara mudah baginya untuk sampai ke titik itu..

Perjuangan Sebagai Yatim Piatu

Dorce lahir dari pasangan Dalifah, seorang pedagang beras berdarah Minang dan Achmad, seniman sekaligus tentara berdarah Arab-Binjai. Baru 3 bulan lahir ke dunia, Dorce sudah tak bisa lagi mengecap puting susu ibunya yang meninggal tanpa sebab di usia 40 tahun. Jiwa sang ayah lalu tergoncang sepeninggal istrinya. Dirinya seakan terjebak di masa lalu dan susah move on. 2 bulan setelah kepergian sang istri, ayah Dorce minggat dari rumah tanpa kabar, meninggalkan segalanya. Di usia 1 tahun, Dorce mendapat kabar jika ayahnya ditemukan meninggal. Dorce pun berstatus yatim piatu.

Dorce lalu diasuh neneknya yang bernama Darama di Tanah kelahirannya, Solok, Sumatera Barat. Barulah di usia 5 tahun Dorce dibawa ke Ibukota untuk tinggal bersama bibinya, Dalima. Dari sini, kisah Dorce mirip sinetron, penuh drama, air mata dan perjuangan. Tak jarang Dorce dapat perlakuan tak adil dari bibi dan juga saudara-saudaranya, mengingat statusnya yang hanya numpang tinggal.

Dorce yatim piatu sejak usia 1 tahun / Credit: KapanLagi - Budy Santoso

Sedih memang, tapi Dorce tak mau menyerah pada keadaan. Ia pun mulai bekerja membanting tulang demi bisa makan dan mencari uang saku tambahan. Mulai dari jualan koran, mencuci piring hingga keliling jualan kue pernah menghiasi masa kecil seorang Dorce. Dari sanalah Dorce, 7 tahun, belajar mengenai kerasnya hidup.

Kepergian nenek Darama adalah salah satu pukulan terbesar dalam hidup Dorce. Kesedihannya kala itu terasa lebih nyata jika dibandingkan saat kedua orangtuanya meninggal. Sejak saat itu, Dorce benar-benar jadi sosok yang belajar mandiri. Tak ada lagi sosok yang membelanya dari kejahatan atau kerasnya dunia.

Pencarian Jati Diri

Di usia 7 tahun, Dorce mulai merasakan ada sesuatu yang terpenjara dalam tubuhnya. Untuk ukuran laki-laki seumurannya, Dorce sensitif, perasaannya terlampau lembut, dan Ia lebih banyak berkumpul dengan anak perempuan. Bahkan di salah satu sudut hatinya, Dorce menyimpan asa sederhana; Bisa mengenakan rok atau pakaian wanita. Namun kala itu, Dorce terlalu kecil untuk memberanikan diri mengutarakan kegundahan hatinya pada siapapun. Ia menyimpannya seorang diri.

Ketika usianya menginjak 1 dekade, kegundahan hati Dorce mengenai gender-nya semakin menjadi-jadi dan tak tertahankan lagi. Satu waktu di atas panggung acara 17-an, Dorce memainkan sebuah pentas sandiwara, di mana dirinya dapat peran sebagai seorang nenek. Untuk kali pertama Dorce kecil mengenakan rok dan pakaian wanita. Sisi lain dalam dirinya pun berteriak kegirangan. Dorce kecanduan.

Dorce selalu ceplas-ceplos, santai dan bahagia / Credit: KapanLagi

Masih di usia 10 tahun, Dorce gabung dengan grup band bernama BamBros. Dari upah pertamanya nyanyi, Ia lalu bisa membeli rok span atas hasil keringatnya sendiri di Pasar Rumput. Namun Dorce belum berani mengenakannya untuk kehidupan sehari-hari. Ia paham betul konsekuensi yang harus dihadapinya jika mengenakan rok tersebut di tempat umum.

Dari BamBros, Dorce akhirnya gabung dengan Fantastic Dolls, sebuah band yang beranggotakan para waria. Dari sinilah, nama Dorce mulai dikenal luas. Sekali dayung, dua tiga pulau terlewati, selain mendapatkan popularitas dan penghasilan sendiri, Dorce bisa menyalurkan hobinya nyanyi. Di atas itu semua, Dorce bisa mengenakan pakaian wanita yang selama ini diidam-idamkannya.

Sah Jadi Wanita

Setelah bisa mendapatkan pundi-pundi uang sendiri, Dorce pun mulai serius untuk mengganti identitasnya menjadi wanita secara utuh.  Berbagai research dilakukan Dorce, mulai dari membaca buku hingga bertanya pada teman-temannya yang sudah lebih dulu melakukan prosedur transisi gender.

Singkat cerita, nama Prof. Dr. Johan Marzuki muncul. Beliau adalah seorang dokter ahli bedah plastik di Rumah Sakit Soetomo, Surabaya. Setelah melalui proses yang cukup panjang, Dorce akhirnya dapat lampu hijau untuk masuk meja operasi. Proses operasi bedah kelamin yang berjalan selama 4 jam lamanya itu berakhir dengan sebuah keberhasilan. Kebahagiaan Dorce pun mencapai klimaksnya. Ia merasa perjuangannya selama ini tak sia-sia.

Last but not least, Dorce mengurus pergantian identitas untuk kartu kependudukannya yang prosesnya berjalan cepat dan mudah. Nama Dedi Yuliardi sudah tak lagi menghiasi KTP-nya, melainkan Dorce Ashadi. Namun karena satu alasan dan lainnya, Ia lebih memilih nama Dorce Gamalama sebagai nama panggung yang hingga sekarang melekat erat dalam ingatan kita semua. Tahun 1986, Dorce resmi diakui sebagai wanita.

Dorce sah jadi perempuan! / Credit: Buku 'Aku Perempuan'

Perjuangan Belum Berakhir

Meski sudah memegang KTP dengan jenis kelamin wanita, namun hal itu tak lantas membuat bintang film DORCE SOK AKRAB itu dengan mudahnya diterima oleh semua orang. Masih banyak yang mempertanyakan moral dan juga akhlak dari Dorce atas keputusannya tersebut. Apapun gendernya, Dorce tetaplah seorang pemeluk agama Islam yang taat dan mengedepankan hubungan antara dirinya dan Tuhan. Tahun 1990 Ia mendapatkan gelar Hajjah setelah menunaikan ibadah haji. Dan setahun setelahnya, Dorce pergi ke Tanah Suci untuk kedua kalinya. Dorce lalu mengenakan hijab, bahkan membangun sebuah yayasan untuk menampung anak-anak yatim, namanya Dorce Halimatussa’diyah. Total anak yatim yang ada di dalamnya sekarang mencapai angka 600 lebih.

Tak bisa hamil, Dorce tutupi dengan kebaikan lain / Credit: KapanLagi

“Anak yatim gue ada 600, anak ada 4 (angkat), semua anak titipan Allah, nggak ada yang haram, yang haram emak bapaknya. Semua anak titipan Allah, makanya kalau ada orang bilang anak haram tuh orang gue bacok. Eh ibu-ibu kalau punya anak daripada dibuang mendingan kasih gue aja, tar gue rawat dengan penuh kasih sayang. Dia malu punya emak kayak kita? Ya kita jadi bapak, gampang. Gue mah orangnya simpel, lu mau panggil gue bapak, boleh, bapak Dorce, om Dorce, ibu Dorce. Sorry, gue nggak pernah nyuruh orang manggil gue bunda, mau panggil ses kek, apa juga nggak masalah, apalah arti sebuah nama?” ujar Dorce penuh semangat ketika berbincang-bincang ringan dengan KapanLagi.com belum lama ini.

Saat ini, sudah hampir tak ada lagi yang mempermasalahkan gender dari Dorce. Di mata publik, Dorce adalah seorang penyanyi, aktris dan juga komedian wanita yang penuh karya dan juga inspiratif. Mental Dorce memang sudah ditempa habis-habisan di sepanjang perjuangannya mencari jati diri. Omongan-omongan bernada negatif dan sensitif dari publik sudah seperti angin lalu baginya.

Dorce tak takut atau khawatir dijauhi orang / Credit: KapanLagi

“Gue banyak belajar, terlepas siapa gue, jangan nge-judge orang, jangan menghina orang, yang tahu dosa gue bukan lu. Entar gimana-gimana gue, itu urusan gue, nanti gue punya surat wasiat, tenang aja, jangan ribut. Jangan pusing siapa yang mau mandiin gue, entar gua mandi sendiri, mau dikubur di mana? Jangan kuatir gue ada kuburan sendiri, orang-orang jangan nyinyir, kan ada anak-anak gue yang tahu siapa gue, jadi nggak perlu gue ragu, takut. Jadi gini lho, dalam hidup gue sekarang ini Insya Allah gue menjadi manusia yang kaffah, terlepas siapa gue, ya gue jalannya bener, gue juga jadi perempuan maaf-maaf bukan buat ngegoda orang, ngejablay, melacurkan diri, bukan payudara dipamer-pamerin, pantat ditonjol-tonjolin. 1990 gue sudah pergi haji, 91 haji. Gue pakai hijab dipermasalahin, nggak apa-apa itu urusan gue, pokoknya sekarang gue udah menemukan Tuhan gue sebenernya, tinggal nanti bagaimana seandainya gue mati seperti apa, biarlah gue introspeksi diri gue dengan Allah, jadi jangan orang sok pinter karena ini hidup gue. Biarpun mulut lu berbusa kalau gue nggak berubah ya nggak, emangnya gue jadi laki lu jadi sehat? Kaga juga. Siapa tahu nasib lu lebih buruk dari gue, jadi udah lah, amal lu amal lu, amal gue amal gue,” sambung wanita yang mengadopsi 4 orang anak itu.

“Masalah operasi, jujur saya tidak ada operasi yang lain selain kebutuhan saya sebagai wanita. Muka asli, hidung asli, mata asli, jakun nggak ada, kaki mulus, saya nggak buka karena aurat, jadi saya akan bersyukur karena Allah berikan kenikmatan pada saya, biarlah ini menjadi tanggung jawab saya pada Allah, saya mau mati seperti apa, pastinya saya ingin mati khusnul khotimah. Saya juga sering tanya-tanya sama Ustaz Abdul Somad, malah Ustad soulmate saya. Saya tidak fanatik, ini pakaian saya sehari-hari, kalau orang bayar saya, saya harus beauty dong,” lanjutnya.

Saat ini usia Dorce mendekati angka 55 tahun. Hidupnya sudah bahagia, tenang bersama 4 anak angkatnya. Meski sudah jarang muncul di layar kaca, Ia sudah bisa berdiri sendiri, menghidupi anak-anak angkat maupun yatim di yayasan-nya. Istimewanya, Dorce punya sebuah prinsip yang Ia pegang teguh dalam dirinya; Ia enggan mengemis pekerjaan, pada siapapun juga, bagaimanapun kondisinya.

Dorce ingin mati secara khusnul khatimah / Credit: KapanLagi

“Alhamdulillah walaupun banyak yang menanyakan saya nggak muncul di TV, saya tipe orang yang nggak suka minta-minta. Misal saya banyak kenalan di TV a, TV c ada bosnya juga, tapi saya nggak ada sifat minta-minta karena saya pikir dulu saya berkarya bukan karena minta-minta, tetapi karena prestasi, gengsi saya tinggi. Kalau diajak saya mau, tetapi kalau diajak TV membahas masalah yang semeleketek saya nggak mau. Artinya perjalanan saya sudah jauh, saya jadi artis saja sudah 45 tahun, usia saya bulan Juli Insya Allah 55 tahun, saya mau cari apalagi? Sudah deh pokoknya sampai detik ini orang masih pake saya nyanyi, entertain, masih bisa ke luar negeri, Eropa, Amerika bolak-balik, pokoknya nikmatin saja karena Allah berfirman; Nikmat mana lagi yang kamu dustai? Jadi bukan berarti kesuksesan orang dari TV, ada orang keluar TV, besoknya sudah ilang. Saya udah pernah di TV setiap tahun, jadi misalnya nggak ada yang ngajak mungkin memang dia nggak suka,” jelas Dorce.

Lika-Liku Asmara

Di usia 15 tahun, Dorce pertama kali merasakan cinta pertamanya pada seorang pria asal Padang yang tinggal di Jakarta. Dan barulah di usia 23 tahun Ia resmi dinikahi oleh seorang pria yang identitasnya hingga saat ini dirahasiakan. Pada bukunya, ‘Aku Perempuan’, Dorce melabelinya sebagai Mr X. Namun nahas, usia pernikahan Dorce dan suaminya hanya berlangsung 2 tahun saja.

Satu hal yang tak bisa dicapai oleh Dorce dalam hidupnya adalah merasakan kenikmatan seorang ibu untuk membawa sang calon buah hati selama 9 bulan lamanya dalam kandungan. Dorce tak bisa hamil. Karenanya, Dorce memilih untuk mengadopsi 4 orang anak; Rizky Sutrisno Kidjo, Siti Khadijah, Siti Fatimah Tuzzahrah dan Abu Ramadhani.

Setelahnya, lika-liku asmara hadir di kehidupan Dorce. Beberapa kali Ia dekat dengan pria, namun tak pernah sampai naik ke pelaminan lagi. Dengan senyum mengembang pada bibirnya, Dorce pun menceritakan beberapa sosok pria yang sempat hadir dalam kisah cintanya.

“Ada empat pria yang aku cintai. Aku kasih inisial aja, aku nggak mau (nama lengkap), dia mungkin sudah berbahagia pasangan masing-masing. Yang pertama baru aja punya cucu. Selamat ya B! Terus yang kedua namanya D, selamat ya D. Yang ketiga A, ini nggak tahu udah nikah apa belum. Terus yang keempat saya nggak mau cerita karena beda dengan yang tiga ini, tapi sudahlah ini menjadi perjalanan hidup saya. Saya berterima kasih pada mereka yang pernah ngisi perjalanan kehidupan saya. Artinya, terlepas siapa saya, apakah dia anggap saya sebagai mainan, apapun itu. Yang pasti dia pernah mengisi hidup saya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Yang pasti dia laki-laki normal, kenal dengan saya, mau menikah dengan saya itu satu perjuangan. Dan akhirnya berpisah, dia punya istri lagi, itu adalah suatu kemenangan. Saya nggak boleh dendam, saya nggak boleh sakit hati dengan siapapun. Bahkan yang terakhir saya doakan mudah-mudah mendapatkan pengganti yang lebih baik, lebih sayang. perlakukan dia sebaik-baiknya, tidak seperti memperlakukan pada saya. Jadi saya bahagia pernah didampingi oleh empat pria. Itu orang lokal ya, kalau bule mah banyak,” paparnya.

Untuk saat ini, pernikahan bukanlah prioritas utama Dorce. Namun bukan berarti Ia menutup kemungkinan tersebut. “Saya sih nggak pengen nikah, nggak. Tapi kalau memang itu terjadi, dan itu terjadi di negeri orang, ya why not? Saya pasti akan ngobrol sama Allah, apakah Allah masih mengizinkan. Jadi aku di Indonesia ini jalan sendiri aja lah, jadi kalau aku mau macem-macem di luar aja lah, yang tidak membuat malu umat Islam di sini. Tapi aku juga nggak pernah malu-maluin sih. Aku bilang ke dia, ‘Kalau kamu mau menerima saya ya kamu harus mengikuti agama saya dan Insya Allah saya tidak akan mau mengikuti agama kamu’, karena saya pikir saya sudah banyak dosa, saya nggak mau nambah dosa lagi,” jelasnya lebih lanjut.

Kronologi kehidupan Dorce / Credit: Liputan6.com - Tri Yasni dan Abdillah

Di sela-sela pertanyaan trivia yang kami ajukan, Dorce tanpa sengaja membeberkan indikasi jika dirinya saat ini tengah dekat dengan pria lain. Namun sekali lagi, pernikahan mungkin Dorce sudah bukan lagi prioritas utamanya.

“Yaaa.. baru aja sih (bilang cinta ke orang lain), pas dari Amerika kemarin. Tunggu tanggal mainnya.. hahahahaha. Insya Allah. Kalau cium orang sebulan lalu. Temen sih, dia baik. Gini ya, dia juga manusia, aku juga tahu diri. Tapi untuk sampai ke titik pernikahan, aku masih berfikir panjang. Tapi aku tidak akan melakukan ini di Indonesia. Karena ada pertimbangan-pertimbangan, dan aku menghargai masyarakat, ulama dan sebagainya,” pungkas wanita yang berharap bisa ngedate dengan Sammy Simorangkir itu.

Dorce tak peduli orang mau panggil dia apa / Credit: KapanLagi

By the end, ada pria atau tidak dalam hidupnya, Dorce tak mau ambil pusing lagi. Dirinya sudah hidup dengan bahagia dengan segala kondisinya saat ini. Impian besarnya untuk mengganti identitas hingga memiliki anak (meski anak angkat) pun sudah terwujud. Di atas itu semua, kisahnya, walau masih kontroversial, tak bisa dipungkiri akan menginspirasi masyarakat Indonesia. Bunda Dorce, Bapak Dorce, Om Dorce, atau Ses Dorce. Tak peduli bagaimana panggilannya, tentunya sudah tak perlu lagi dipertanyakan ke-bunda-an-nya, terutama pada anak-anak angkat dan asuhnya. Ya, Dorce Perempuan.