Who am I?

Who am I?

      Comments Off on Who am I?

Komaruddin Hidayat
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

SEKITAR 17 tahun yang lalu saya memperoleh undangan untuk mengikuti retret atau semacam spiritual camp di Kota Mount Abu, Hyderabad, India. Satu wilayah pegunungan, mirip daerah Puncak Bogor, dengan udaranya yang sejuk, segar, jauh dari keramaian.

Di situ terdapat kompleks padepokan dengan papan nama World Spiritual University. Peserta yang hadir beragam bangsa, agama, dan profesi. Ada pebisnis, bintang film, ilmuwan, tokoh agama, dan lainnya. Institusi ini dibangun dan dikelola oleh organisasi spiritual Brahma Kumaris.

Selama enam hari, kami mendapatkan ceramah, diskusi, dan latihan meditasi, dengan tema sentral berupa pertanyaan “Who am I”?  Semua agama tersentuh dan bersinggungan dengan pertanyaan eksistensial ini.

Dalam forum itu dilakukan dialog dan simulasi, sehingga muncul berbagai jawaban, misalnya ketika menjawab pertanyaan “Who are you”,   muncul jawaban “I am Andre, I am American”. Maka jawaban itu dikritik. Bahwa ungkapan itu secara substantif tidak benar. “Andre is your name. It is not you”.  “America is your country. It is not you”.

Demikianlah seterusnya, pengisi dan pemandu retret memberikan contoh lebih lanjut. Kalau kita bilang “Aku lapar”, yang benar adalah “Perutku lapar”.  Ketika kita bilang “Aku mengantuk”, yang benar adalah “Mataku mengantuk”. Ketika bilang “Aku pusing”, yang benar adalah “Kepalaku pusing”. Mengapa? Karena mata, perut, kepala, kaki, tangan, dan sebagainya, kesemuanya itu bukan “aku” tetapi “organku”. “Those are mine, but not me”.

Diingatkan agar diri kita yang disebut “aku” jangan diidentikkan dengan barang yang menjadi milikku. Lebih jauh lagi, jangan menggantungkan atau menempelkan harga diri dan kemuliaan diri pada kekayaan dan materi yang kita miliki, yang menempel pada diri kita.

“Aku” itu diibaratkan “sopir” bagi sebuah mobil. Kalau terjadi tabrakan pada mobil yang membuat fisiknya penyok, diri sopirnya jangan ikut penyok, karena sopir tidak identik dengan mobil. Cukuplah duduk tenang mengamati mobilnya yang penyok. Kalau hati ikut gelisah dan penyok, berarti masih ada attachment kuat pada sosok mobil itu. Masih ada kemelekatan kuat.

Dikatakan, kalau Anda punya mobil, simpanlah di garasi, tetapi jangan diparkir hati. Diulang-ulang konsep attachment dan detachment. Yang kedua ini berarti kemampuan melepaskan diri dari sikap kemelekatan dan memuja kuat pada dunia materi ataupun jabatan, karena sesungguhnya “aku” yang sejati itu bersifat immateri, suci, dan murni, namun sering kali dikotori oleh jabatan dan kekayaan ketika dirinya tidak mampu melakukan detachment. Yaitu  ketika “aku yang spiritual” tidak mampu menaklukkan dunia material. “So, who am I?”. “I am a spiritual being”. “I am not what I have”.

Suasana retret itu memang terasa kental aura spiritualnya. Semuanya diajak melakukan inner journey, memutuskan diri dari hiruk-pikuk duniawi. Orang berbicara hanya sebatas yang perlu saja. Orang merasa malu, dan mengendalikan diri, untuk bicara hal-hal yang tidak meningkatkan kualitas diri spiritual.

Di mana pun berada dianjurkan bermeditasi, menyelam ke dalam batin terdalam untuk mendorong agar “aku” yang spiritual itu selalu dekat dan kontak dengan Tuhan, sesuai dengan konsep dan keyakinannya masing-masing. Setiap ada sesi ceramah, sebelum dan sesudahnya dilakukan meditasi. Yaitu berdiam, layaknya iktikaf atau zikir khofy dalam tradisi Islam, yaitu berzikir dalam hati, tanpa suara. Dan itu bisa berlangsung lebih dari satu jam setiap meditasi.

Ketika meditasi berlangsung, aula yang besar itu menjadi hening. Semua peserta dipersilakan duduk sesuai dengan cara dan pilihannya yang dirasakan nyaman baginya. Kebanyakan duduk bersila layaknya di dalam masjid. Sedemikian heningnya, andaikan ada jarum jatuh pun akan terdengar.

Kenangan ikut retret tersebut di atas muncul kembali ketika melihat banyak orang dan politisi yang berlomba mengejar jabatan sekalipun harus mengeluarkan ongkos yang mahal, moral dan material. Sebagian dari mereka bahkan mesti mampir ke tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena terjebak oleh godaan dan rayuan korupsi. Jabatan diposisikan sedemikian rupa, dipersepsikan sebagai sumber sukses dan kebanggaan diri.

Maka bagi mereka yang berakhir dari kursi jabatannya, lalu terkena post-power syndrome. Seakan dunia berakhir. Karena kualitas diri yang spiritual, rohani, telah dikurung dan dilekatkan pada dunia materi.

Materi bukan lagi sebagai instrumen, organ, tetapi diposisikan sebagai aspek fundamental dan substansial. Bukan lagi alat, tetapi jadi tujuan yang dengannya dan kepadanya ukuran sukses dan harga diri dipertaruhkan atau dipercayakan.